Muslimah Insight

MENGARAHKAN KREATIVITAS PEMUDA

Juanmartin

Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada oktober 2016 lalu menggagas Gerakan Nasional Pemuda Kreatif yang berfokus untuk mengembangkan daya kreatif yang dimiliki para generasi muda, melalui pelatihan dan bantuan permodalan. Asisten Deputi Peningkatan Kreativitas Pemuda, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Eny Budi Sri Haryani mengatakan bahwa Pemerintah harus hadir untuk anak-anak kreatif di Indonesia supaya karya-karya mereka kian besar dan berperan efektif dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif. Kegiatan yang dilakukan pihak kemenpora ini juga bertujuan untuk menggali serta memetakan potensi kreativitas yang dimiliki generasi muda saat ini, khususnya yang memiliki rentang usia mulai 16-30 tahun.

Harus diakui bahwa Era baru dalam bisnis ditandai dengan kekuatan pada ide, gagasan, kreativitas dan inovasi yang dikawinkan dengan kecanggihan penggunaan teknologi informasi. Perusahaan-perusahaan raksasa kini bersaing secara terbuka dengan perusahaan yang dimiliki mungkin hanya oleh satu-dua orang, namun menjanjikan solusi brilian bagi konsumen. Perusahaan-perusahaan baru tersebut sebagian besar muncul dari pemuda dengan mengandalkan transaksi digital.

Salah satu kekuatan Perusahaan-perusahaan baru tersebut tentu saja  bertumpu pada social media. Bertepatan dengan itu,kemunculan para selebgram dan  seiring dengan populernya artis-artis baru hasil unggah (upload) di Youtube/youtuber, maupun via aplikasi android-, memunculkan gagasan-gagasan baru perusahan start-up. Kekuatan dari startup business adalah pada inovasi dan kreativitas produk yang ditawarkan. Perusahaan-perusahaan baru ini sangat menjanjikan karena memiliki kecepatan untuk penetrasi ke pasar, lebih lincah (agile) dan mempunyai harga kompetitif karena belum masuk dalam penanganan karyawan jumlah besar, yang seringkali menjadi faktor pengeluaran terbesar bagi perusahaan besar. Economic of time telah terbukti bisa mengalahkan logika economic of scale, kecepatan memasuki pasar tanpa birokrasi berbelit telah mengungguli kekuatan perusahaan besar yang banyak mengandalkan efisiensi karena membeli dan mengolah raw material dalam jumlah yang besar.

Dorongan yang diberikan bagi pengembangan kreativitas pemuda tak hanya dari kemenpora. Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Silaturahmi dan Dialog Nasional Ikatan Senior Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (ISHI) di Jakarta, beberapa waktu lalu dengan mengusung tema “Menyukseskan Nawacita melalui Keberpihakan kepada UMKM dan Pengusaha Muda Indonesia”, memberikan dukungan besar kepada para pengusaha muda. Presiden Jokowi bahkan mengundang beberapa youtuber muda untuk makan bersama di istana Negara. Belakangan, presiden Jokowi pun kerap mengunggah videonya saat ber-vlog ria sembari mengajak para pemuda untuk menjadi vloger.

Melengkapi dukungan terhadap program kreativitas pemuda, Kementerian Pemuda dan Olahraga juga menggagas program Kota Layak Pemuda tahun 2017 baru-baru ini. Program tersebut merupakan sebuah pondasi untuk memperkuat pembinaan dan pemberdayaan pemuda di tiap wilayah Indonesia. Peluncuran program dibuka langsung oleh Menpora Imam Nahrawi di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa (8/11/2016). Bandung ditetapkan menjadi satu dari tiga kota yang menjadi percontohan. Kota layak pemuda akan dicanangkan oleh pemerintah pusat karena telah mencapai sejumlah indikator yang ditetapkan oleh Kemenpora, antara lain dukungan Perda tentang kepemudaan (regulasi), ruang dan tempat berekspresi dan kreasi pemuda (infrastruktur), keaktifan organisasi kepemudaan dan komunitas pemuda, serta kemandirian pemuda sebagai pelopor bidang UMKM. Tahun 2016, kemenpora baru menginisiasi dan mendorong mencari daerah percontohan. Yakni kota Bandung, Malang, dan Palu.Untuk melakukan pembinaan pemuda juga mesti didukung sarana dan prasarana, seperti di Kota Yogyakarta yang memiliki youth center atau tempat nongkrong anak muda kreatif di bidang seni fashion, dan kuliner. Saat ini beberapa kota di Indonesia berupaya mendesain tata ruang kota layak pemuda dengan membuka ruang-ruang ekspresi dan kreativitas salah-satunya Bandung.

 

//TAK HANYA KREATIF, TAPI JUGA MEMBANGKITKAN//

Tak dipungkiri, Pemuda Asia, khususnya Indonesia  memiliki tipikal pemuda kreatif dan sarat akan ide-ide inovatif. Robert Blake saat  menggelar Kuliah Umum Duta Besar Amerika  dengan tajuk “Innovation and The Digital Economy” di Balai Sidang Universitas Indonesia 2016 lalu menilai bahwa  generasi muda Indonesia memiliki kreativitas dan berbakat di bidang start-up, yang  menjadi lirikan investor asing. Kreativitas tersebut juga tercermin dengan berbagai hasil karya anak negeri yang tampil di berbagai kompetisi. Bahkan, dalam pemaparannya Robert Blake menyatakan Indonesia dengan generasi mudanya, dapat melahirkan individu-individu baru yang mampu menciptakan berbagai inovasi di bidang teknologi digital. Indonesia pun memiliki potensi melahirkan orang-orang seperti Steve Jobs, Bill Gates dan Mark Zuckerberg.

Apa yang dikatakan Robert blake tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki SDM yang tak hanya kreatif tapi juga memiliki modal untuk bersaing dengan Negara-negara lainnya. Hanya saja, Apakah kreativitas tersebut berkontribusi pada penyelesaian masalah negeri yang kian terpuruk? Ataukah kreativitas ini hanya dijadikan sebagai ajang have fun dan meraup keuntungan bisnis? Pada faktanya, sekulerisme telah menggerus potensi besar kaum muda negeri ini. Kemajuan teknologi justru disambut dengan euforia yang berorientasi dunia dan individualis. Berbekal motivasi ini, kaum muda tak lagi memiliki rasa malu saat mempertontonkan kegilaannya semata mengejar viral. Remaja putri seakan kehilangan izzah dan iffah, sementara remaja putra disibukkan dengan aktivitas yang jauh dari jiwa seorang calon pemimpin.

Pemuda dengan segala potensinya jelas merupakan modal bagi suatu bangsa. Kehidupan di masa datang tentu tak akan lepas dari peran para pemuda. Sayangnya, sistem pendidikan kapitalis sekuler telah dengan sengaja menyusupkan pemikiran materialistik kepada para pemuda. Barat secara sengaja dan tersistematis berupaya membajak kreativitas pemuda dengan mengarahkan pada kreativitas yang sama sekali tak membawa pada kebangkitan umat. Apa yang dilakukan pemuda semata berorientasi pada kebahagiaan individualis semata, sama sekali tak menyentuh akar masalah dari carut-marutnya system kehidupan saat ini. Program kreativitas pemuda ini juga adalah upaya barat untuk menyibukkan generasi melalui program penyehatan ekonomi, wiraswasta, wirausaha, enterpreneurship dll, yang secara pasti menjauhkan mereka dari peran sebagai iron stock peradaban dan agen perubahan. Tak ada lagi pemuda kritis, yang ada hanya pemuda pebisnis. Tak ada lagi sosok pemuda idealis, yang ada hanya sosok pemuda individualis. Di saat yang sama, barat berupaya mengkriminalisasi pemikiran Islam dengan menawarkan kurikulum anti terorisme kepada sekolah dan universitas, dengan dalih menjauhkan pemuda dari pemikiran radikal yang tentu saja yang dimaksud adalah Islam. Pada kondisi ini jelas bahwa barat berupaya mengalihkan potensi pemuda pada pemberdayaan ekonomi yang sejatinya hanya untuk memulihkan krisis ekonomi barat, serta mengkanalisasi potensi pemuda ke arah pemberdayaan ekonomi semata. Sementara potensi ideology pemuda berupaya dimatikan melalui kriminalisasi islam, seraya menawarkan kurikulum anti terorisme dan kurikulum islam moderat.

Kreativitas pemuda seharusnya bermuatan pemahaman ideologi islam yang akan menuntun mereka untuk berupaya mengaruskan perjuangan Islam dengan membangkitkan pemikiran masyarakat yang jumud dan cenderung apatis terhadap Islam saat ini. Dengan kreativitasnya, para pemuda muslim akan berkontribusi besar dalam upaya membangkitkan kembali peradaban Islam abad 21. Ide kreatif, kemasan yang futuristic, dan design inovatif dengan penguasaan teknologi mumpuni yang dibarengi pemikiran ideologis inilah yang sangat ditakuti barat. Ketakutan tersebut amat jelas tergambar dari pernyataan Robert blake yang mengungkapkan bahwa salah satu dampak negatif kemajuan teknologi digital ini adalah penyebaran paham terorisme dikalangan pemuda, oleh kelompok-kelompok teror melalui berbagai sarana seperti Youtube dan Twitter.

Inilah yang benar-benar di fahami sekaligus menghantui eksistensi adidaya kapitalisme saat ini. Bangkitnya kesadaran ideologis pemuda, merupakan modal dasar untuk mengakhiri peradaban kapitalisme sekuler. Untuk itu, dibutuhkan upaya secara sistematis sebagai upaya menyadarkan pemuda akan potensi besar yang mereka miliki. Sungguh, Karakter pemuda sebagai agen perubahan telah dibungkam kapitalisme global, barat kuffar begitu berambisi membunuh identitas muslim pada diri pemuda muslim saat ini. Pemuda Muslim harus bangkit! Kembali ke identitas Islam ideologis, dan mengaruskan perjuangan yang bertujuan untuk membangkitkan kehidupan Islam melalui berbagai gerakan penyadaran yang dikemas secara kreatif, dan di iringi dengan kesadaran Ideologi yang shahih. Wallaahu a’lam.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *