Muslimah Insight

212 vs 2246

Oleh: Ayu Paranitha

Manusia itu pasti punya reason atau motivasi yg mendorongnya untuk memilih melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Di surat Al-Baqarah [2] ayat ke 246, Allah mengabarkan pada kita tentang kisah pemuka bani Israil yg meminta kepada nabi mereka untuk dipilihkan seorang raja yg mereka akan berperang di jalan Allah di belakangnya.

Akan tetapi, nabi mereka sangat mengenal karakter umatnya, sehingga ia melemparkan satu pertanyaan retoris, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?”

Coba perhatikan bagaimana Allah membimbing nabiNya menjawab pertanyaan kaumnya. Pemuka bani Israil bertanya tentang siapa yg akan ditunjuk nabi sbg raja, tp jawabannya tidak menyinggung tentang raja sama sekali. Allah mengajarkan kita tentang ilmu politik, bahwa akan ada penguasa korup yg memanfaatkan legitimasi agama untuk mendapatkan kekuasaannya. Mereka bukan meminta dipilihkan seorang pemimpin untuk mereka, tp mencari legitimasi kepemimpinan salah satu diantara mereka. Dan untuk menutupi maksud yg sebenarnya, mereka menambahkan alasan “agar kami berperang di jalan Allah”

Tapi masih di ayat yg sama Allah abadikan percakapan mereka tentang motivasi yg sesungguhnya. Motivasi mereka bukan menghendaki berperang di jalan Allah, tetapi karena kecintaan pada negeri mereka dan keturunan mereka. Dan di ayat selanjutnya semakin jelas tujuan para pemuka Bani Israil, ketika nabi mereka memilih raja diluar lingkaran para pemuka, mereka mempertanyakan pilihan nabi mereka. Bukankah jika mereka menginginkan berperang di jalan Allah, seharusnya jawaban mereka adalah sami’na wa’atho’na, kami dengar dan kami taat?

Maka ketika nabi Allah mempertanyakan motivasi mereka dan mereka tersudut, lalu mereka memberikan jawaban: bagaimana mungkin mereka tidak berperang sedangkan musuh mendatangi mereka, anak keturunan mereka dijadikan budak, tentu saja mereka akan berperang membela kepentingan mereka. Atau mungkin dalam bahasa kita sekarang, bagaimana mungkin kita diam ketika asing menguasai negeri ini? bagaimana mungkin kita diam ketika petani kita menjerit karena import pangan? kita akan bela tanah air kita sampai titik darah penghabisan! Motivasi semacam ini adalah motivasi yg manusiawi, tp apa termasuk fii sabilillah? Nope.

Ingat tidak kisah Quzman? Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Quzman itu adalah penghuni neraka.” (HR. Ibn Hisyam). Hadits ini membingungkan sejumlah kaum muslimin karena mereka menyaksikan Quzman berperang bersama mereka di Uhud dan Quzman membunuh banyak kafir Quraisy, tentu saja mereka menganggap Quzman adalah Syuhada. Namun, sebelum Quzman meninggal, sebagian sahabat mendatanginya dan mereka berkata kepadanya, “Wahai Quzman, selamat untukmu.”
Dia bertanya, “Mengapa?”
Mereka berkata, “karena mendapatkan syahid”
Dia berkata, “Demi Allah, aku tidak berperang kecuali karena fanatisme”
Tidak lama, dia tergolek karena luka dalam peperangannya yg menjadi jalan kematiannya.

Lalu pelajaran apa yg bisa kita ambil?

Krisis multidimensi yg melanda adalah alasan rasional bagi siapapun untuk melakukan perlawanan, dan tidak perlu jadi muslim untuk menginginkan adanya perubahan. Hindu, Buddha, Kristen, Ateis semua menginginkan kehidupan yang lebih baik, terwujudnya keadilan, hilangnya kemiskinan, tapi apa yang membedakan perbuatan seorang muslim dan non muslim? Tentu saja motivasi fii sabilillah.

Kita harus menyadari bahwa berjuang di jalan Allah berarti menuntut ketaatan total pada setiap kalam ilahi. Berjuang di jalan Allah adalah tentang memikirkan bagaimana agama Allah tersebar, bagaimana manusia bisa merasakan kemuliaan Islam, juga tentang bagaimana menerapkan hukum-hukum Allah. Jika bukan karena Allah kita harus waspada, jangan-jangan yg kita lakukan adalah fii sabil yang lain 😅

Maka lihatlah bagaimana Allah menggambarkan mereka yg mengatakan berperang di jalan Allah sebagai alasan yg melegitimasi kepentingan pribadi mereka, “ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling kecuali sebagian kecil dari mereka”. Dan Allah yang paling mengetahui motivasi yg ada di dalam hati kita.

Bukan tanpa alasan kenapa Allah menutup ayat ini dengan kalimat, “Allah mengetahui orang-orang yang zalim”. Zalim berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Manusia alaminya akan memperjuangkan kebebasannya, kemuliaannya, dan itu adalah motivasi-motivasi yg manusiawi tapi bukan berarti fii sabillilah. Mengatakan kita berjuang di jalan Allah padahal sejatinya kita hanya memperjuangkan kepentingan pribadi sama juga dengan meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Saat itu kita telah berlaku zalim.

Maksud tulisan ini bukanlah untuk memisahkan Islam dari politik, bukan. Tapi, kita harus sadar bahwa tidak ada yg ma’sum kecuali nabi. Kita harus taat pada ulama karena mereka lebih mengetahui urusan agama dibanding kita yg awam ini. Namun bukan berarti menghapuskan kekritisan kita. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu saja (yg Rasul sudah menjamin tiket ke surga untuk beliau) terbuka akan kritik, lalu siapalah kita manusia-manusia akhir zaman yg berlumuran dosa? Kita harus bersemangat menolong agama Allah, tp jangan sampai kecintaan kita membutakan akal sehat kita. Saya ambil contoh, ada media yg menyebutkan massa aksi 212 kemarin mencapai 13jt jiwa. Cuy, penduduk Jakarta aja kurang dari 10jt (coba googling)! 13jt ngitung darimana? 😅 tapi yg bilang 40rb juga perlu diperiksa ulang kemampuan berhitungnya 😅

Maka jangan berhenti pada euforia reuni akbar, yuk kita perdalam lagi tsaqafah Islam, setidaknya kuasailah fiqh minimal yg berkaitan dg kehidupan kita sehari-hari, pelajari bahasa Arab agar kita mampu bermesra dengan kalamullah. Ketika kita serius menapaki jalan Allah semoga dengannya Allah yg memudahkan kita menjadi faqih dalam agama, yg dengannya jadi jalan dari Allah menurunkan pertolonganNya melalui tangan kita.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *