Gagal paham pertama nampak sekali dari cara mereka menganalisis akar masalah kekerasan terhadap perempuan dengan menganggap agama sebagai bagian dari budaya patriarki yang mengungkung kebebasan perempuan. Akar masalah justru datang dari pola pikir liberal dan ide kebebasan yang mengajarkan untuk mengejar kesenangan pribadi tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkannya kepada orang lain. Pandangan liberal inilah yang menciptakan masyarakat yang mengorbankan kehormatan dan keselamatan perempuan. Seharusnya para aktivis anti kekerasan terhadap perempuan ini menyadari bahwa terdapat paradoks mencolok dalam muatan nilai kampanye mereka yakni antara himbauan untuk menghormati perempuan dengan menyanjung nilai-nilai kebebasan liberal yang menempatkan kehendak dan keinginan individualistis sebagai standar benar dan salah.
Gagal paham kedua adalah solusi mereka yang berkiblat pada gerakan feminism di Barat – padahal Barat justru importer utama kekerasan terhadap perempuan di negeri muslim – biang keladi terciptanya masyarakat liberal yang tidak aman bagi perempuan. 10 Besar negara di dunia dengan angka kekerasan seksual tertinggi terhadap perempuan dirajai oleh negara-negara Amerika Utara dan Eropa.
Kampanye women’s march juga turut mengimpor sikap anti – agama dari negara-negara Barat, bahkan latah dalam melakukan blaming Islam dengan mengatasnamakan perempuan sebagai korban. Kampanye mereka sangat terlihat tendensius karena arahnya memang untuk menempatkan Islam dan ajarannya sebagai sumber kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Logika ini bukan hanya salah kaprah tapi juga menyesatkan dan menunjukkan kebodohan terhadap ajaran Islam.Propaganda kaum feminis melalui RUU PKS ini tak lebih merupakan propaganda gagal dan hanya menjadi teater opini murahan yang dilembagakan oleh kaum sekuler dan jaringan media liberalnya yang disponsori Barat. Mereka lebih bernafsu menuding Islam, dibandingkan memperbaiki nasib JUTAAN TKW Indonesia yang tereksploitasi di negeri orang, mereka juga lebih tertarik menyerang perda Syariah dibanding memikirkan nasib jutaan anak TKW terlantar karena ibu mereka bekerja ribuan mil dari negerinya. Bagi negeri Muslim seperti Indonesia, seharusnya inspirasi utama dalam menyelesaikan persoalan masyarakat adalah Islam bukan Barat. Hanya Islam sajalah yang memiliki nilai-nilai mulia dan benar-benar bertanggung jawab dalam menjaga kehormatan perempuan, bahkan mewajibkan laki-laki untuk mengorbankan hidup mereka demi membela kehormatan perempuan. Dan hanya sistem Allah saja, Khilafah, yang menawarkan strategi yang jelas untuk melindungi kehormatan perempuan di tengah-tengah masyarakat melalui nilai-nilai dan hukum Islam yang saling melengkapi dalam mewujudkan tujuan ini. Khilafah adalah negara yang menolak prinsip-prinsip kapitalisme dan liberal, sebaliknya menggaungkan nilai-nilai ketakwaan dan pandangan Islam terhadap perempuan melalui sistem pendidikan, media, dan politik sebagaimana sabda Nabi SAW:
إنما النساء شقائق الرجال ما أكرمهن إلا كريم وما أهانهن إلا لئيم
“Perempuan adalah saudara kandung para lelaki, tidak akan memuliakannya kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan menghinakannya kecuali lelaki yang hina.” Fika Komara http://www.hizb-ut-tahrir.info/en/index.php/2017-01-28-14-59-33/news-comment/15016.html