Muslimah Insight

Persekusi Ruh Jama’iy Menuju Reuni; Maju Terus Bela Tauhid

Oleh: Nindira Aryudhani

Reuni 212 sudah di depan mata. Sejumlah rombongan dari berbagai daerah mulai bergerak menuju ibukota. Sedemikian besar energi dan motivasi umat Islam menyambut even reuni. Sungguh, ini bukanlah reuni biasa. Momen 212 bagai ajang reuni tahunan yang pada setiap tahunnya memiliki ciri khas masing-masing. Bertepatan dengan 2018 yang ibarat tahunnya bendera tauhid, reuni 212 kali ini direncanakan menjadi ajang pengibaran jutaan bendera tauhid.

Reuni ini meniadakan sekat keormasan. Reuni ini meniscayakan gelora ukhuwah Islamiyah yang mengental. Reuni ini tak ubahnya wadah persatuan aqidah sesama Muslim. Semua dalam satu visi bersama, yakni sebagai hamba Allah dan umat Rasulullah ﷺ.

Meski demikian, beragam persekusi nyatanya tak terhindarkan. Mulai dari persekusi fisik hingga psikis. Ruh jama’iy ini hendak dianulir. Mulai dari adanya rencana aksi tandingan 4 juta massa, belum lagi adanya wacana-wacana penghadangan rombongan daerah, juga demo pembatalan reuni 212 oleh pihak-pihak anti Islam, tak terkecuali persekusi door to door di beberapa daerah. Tak kalah ramai, berbagai komentar miring pun terlontar dari sejumlah tokoh nasional. Ada yang menyatakan reuni tersebut ditunggangi massa calon presiden tertentu, hingga anggapan bahwa reuni ini tak produktif dan hanya berupa crowd politics (politik kerumunan). Yang pasti, semuanya demi menggagalkan niat person-person mukmin yang hendak bertolak menuju pusat negara.

Namun realitanya, siapa yang sebenarnya tak suka dengan Islam? Siapa yang telah menjadi ornamen ketakutan sosial? Siapa pula yang telah menebar teror dan persekusi? Semua sudah jelas. Karena itu, perjuangan selayaknya berlanjut. Jika sebelumnya kita belum bangga bertauhid, semoga reuni 212 ini menjadi wadah yang tepat untuk menyuburkan kebanggaan itu. Jika sebelumnya kita masih takut dengan bendera ber-lafadz tauhid, semoga reuni 212 menjadikan kita justru berbalik mencintai bendera ini sepenuhnya.

Berdasarkan press release yang dikeluarkan oleh panitia, pengibaran jutaan bendera tauhid akan menjadi salah satu agenda utama reuni 212. Acara ini untuk menunjukkan bahwa bendera tauhid bukanlah sembarang simbol, ini adalah cerminan dari kesatuan pikiran dan perasaan umat Islam. Acara ini juga momentum berbeda walaupun masih berkaitan dengan aksi 212 sebelumnya, yaitu menuntut keadilan terhadap penista Al-Qur’an.

Faktanya, penistaan agama tidak berhenti sampai di situ. Diantaranya, masih belum ada tindakan tegas terhadap penista yang lain. Contohnya, kasus Sukmawati, Victor Laiskodat dan termasuk baru-baru ini pembakaran bendera tauhid yang vonis hukumannya tak masuk akal. Hukuman pada pelaku pembakaran tersebut adalah penghinaan baru karena tidak pernah diakui bahwa pelaku melakukan pembakaran. Apalah artinya hukuman sepuluh hari dengan denda Rp 2000,-. Tindakan itu seolah-olah tidak masalah karena tidak pernah diakui bahwa mereka melakukan pembakaran terhadap bendera tauhid. Mereka disalahkan karena kegaduhan. Andai tidak gaduh, maka mereka tidak salah.

Jadi sungguh, reuni 212 sangat relevan untuk diadakan. Relevan untuk menunjukkan pembelaan terhadap Islam. Pun relevan bahwa umat Islam di negeri ini bersatu dengan tertib dan melakukan kegiatan dengan damai.

Lebih dari itu, reuni 212 ini juga untuk menunjukkan bahwa ukhuwah umat Islam di Indonesia masih ada. Mengibarkan bendera tauhid adalah demi merefleksikan keislaman kita. Inilah salah satu cara untuk melawan rezim yang anti Islam. Ketidakadilan sudah begitu meruncing pada umat Islam. Jurang diskriminasi semakin menganga. Sistem hukum hanya tajam kepada kelompok yang berlawanan arah politik dengan penguasa. Padahal, nyatanya kegaduhan justru dilakukan oleh para elite politik hingga rakyat jadi resah. Karena itulah umat sesungguhnya punya alasan untuk menuntut keadilan. Dan reuni 212 ini adalah salah satu momentum yang tepat. In syaa Allah.

والله أعلم بالصواب

1 COMMENTS

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *