KOPI Muslimah

212, Panggilan Jihad, dan Kesatuan Kaum Muslim

Oleh: Fahmiyah Tsaqofah Islamiy

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD menanggapi Aksi Reuni 212, melalui media sosialnya. Mahfud MD mengaku bahwa dirinya tidak diundang dalam gelaran Reuni 212 tersebut.
Mahfud MD mengatakan jika Reuni Akbar 212 bermuatan politis dan bukan merupakan aksi keagamaan.
Mahfud MD juga menuturkan, hadir atau tidaknya dalam Reuni Akbar 212 bukanlah menjadi ukuran keimanan seseorang, sebab ia yakin bahwa banyak yang tidak hadir di sana imannya lebih kuat dan lebih paham urusan agama daripada umumnya yang hadir. Sebaliknya banyak juga yang hadir di sana imannya tak lebih kuat. Selanjutnya Mahfud mengatakan, hadirnya masyarakat dalam aksi 212 adalah soal demokrasi yang tidak boleh ada didalamnya paksaan maupun larangan. (tribunjateng.com, 3/12/2018)

Memang datang atau tidak dalam Reuni akbar 212 bukanlah menjadi parameter kuat tidak nya iman seseorang, tapi semoga pernyataan Pak Mahfud ini bukan dalam rangka melemahkan semangat membela kalimat tauhid yang digelorakan oleh umat Islam.

Dalam sejarahnya, aksi 212 terlaksana untuk merespon penistaan agama yang pernah terjadi di tahun 2016. Dilanjut pada tahun 2017 yang digelar dalam rangka mensyukuri nikmat bersatunya Umat Islam di tahun sebelumnya (wartakotalive.com, 1/12/2017), kegiatan ini menimbulkan polemik dikalangan para ahli, tokoh agama, maupun praktisi ormas. Kini, reuni akbar di tahun 2018 yang dilangsungkan dengan tema bela tauhid, dan dengan jumlah umat muslim yang datang berlipat-lipat dari tahun sebelumnya juga tak kalah panas membuat sebagian masyarakat maupun praktisi pemerintahan menanyakan substansinya hingga nyinyir dihadapan publik.

Tentu kita fahami bersama kehadiran dalam Reuni 212 tidak bisa dijadikan neraca keimanan, karena tidak ada ayat al-Qur’an yang memfirmankan secara letterlijk maupun hadits yang disabdakan Rasulullah secara jelas. Namun, adanya pembelaan dan perlawanan umat muslim ketika agamanya dinista merupakan ذِرْوَةُ سَنَامِهِ yang dinamakan dengan jihad.

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُوْدُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْـجِهَادُ فِـي سَبِيْلِ اللهِ.

“… Pokoknya perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad fii sabiilillaah.” [Shahih: HR. Ahmad (V/231, 236, 237, 245-246), at-Tirmidzi (no. 2616), ‘Abdurrazzaq (no. 20303), Ibnu Majah (no. 3973), dan yang lainnya.]

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah Jihad adalah, “Mencurahkan segenap kemampuan untuk mencapai apa yang dicintai Allah Azza wa Jalla dan menolak semua yang dibenci Allah.” [Majmuu’ Fataawaa (X/192-193)]

Definisi ini mencakup seluruh macam jihad yang dilaksanakan seorang Muslim, yaitu meliputi ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya. Kesungguhan mengajak (mendakwahkan) orang lain untuk melaksanakan ketaatan, yang dekat maupun jauh, Muslim atau orang kafir dan bersungguh-sungguh memerangi orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimat Allah [al-Jihaad fii Sabiilillaah Haqiiqatuhu wa Ghayaatuhu (I/50) oleh Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Qadiry, cet. II, Darul Manarah–Jeddah, th. 1413 H].

Seharusnya inilah yang disadari oleh tiap-tiap muslim, bahwa umat Muhammad SAW adalah khoiru ummah yang dilahirkan untuk menyeru yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah SWT.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Ali-Imran:110)

Sedangkan mengenai keikutsertaan dalam jihad memang tidak mengharuskan semua umat muslim untuk maju semuanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Namun ingatlah, bahwa perkara jihad yang dimaksud dalam ayat tersebut sejatinya memiliki substansi makna jihad memerangi musuh yang memang nyata berada didepan mata dalam medan pertempuran. Jihad yang diserukan oleh sang Amirul Mu’minin, Khalifah umat muslim dalam Daulah Islam, sebagaimana Jihad yang pernah dikumandangkan oleh Rasulullah, Abu-Bakar as-Shiddiq, Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Abdul Aziz, Muhammad al-Fatih, maupun khalifah-khalifah lainnya yang berakhir hingga masa Khalifah sultan Abdul Hamid II dalam kekhilafahan utsmani yang pada akhirnya diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Pasha pada tahun 1924.

Perlu ditekankan, bahwa hadirnya masyarakat dalam aksi 212 merupakan wujud cinta umat ini pada agamanya. Kemarahan mereka mencuat tatkala agama Allah dinista, semangat mereka berkobar ketika panggilan jihad dikumandangkan.

“Rasa cemburu (ghiroh) dalam konteks beragama adalah konsekuensi dari Iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri.
Ini pertanda masih adanya ghiroh didalam dirinya. Bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat Umat Islam yang semacam ini.
Jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu.
Jika ghiroh tidak lagi dimiliki oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah dijajah oleh asing dari segala sisi.
Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh hakikatnya sama dengan mati.” (BUYA HAMKA: 1908-1981)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *