Catatan Bedah Buku “Labirin Kaum Urban: Geopolitik Perkotaan dalam Lensa Dakwah Islam” karya Dr. Fika Komara (Perspektif Kaum Urban di Baitul Maqdis)

Penulis: Faris Irfanuddin – Institut Al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA)

Saat pertama kali mendengar kabar akan diadakan bedah buku baru Dr. Fika yang mengangkat persoalan dakwah Islam dan kaum urban, saya langsung mempertanyakan dua pertanyaan ini: “Apa ide dan gagasan utama dari buku tersebut ?” dan “Bagaimana mengaitkan gagasan itu dengan Baitul Maqdis ?” Oleh sebab itu Ketika tiba di lokasi saya langsung meminang “Labirin Kaum Urban” dua copy sekaligus. Dan di sela-sela waktu menunggu dimulainya acara saya sempatkan membaca bagian pendahuluan dan penutup, karena dari tips-tips membaca yang saya dengar, untuk memahami garis besar isi buku bisa dimulai dari membaca dua pembahasan itu.   

Dari pendahuluan saya menyimpulkan bahwa buku ini adalah sarana penulis mengutarakan keyakinan dan keresahannya sekaligus. Keyakinan bahwa idealnya dakwah di kota menjadi pusat pergerakan perubahan ke arah kebaikan yang menyebar pengaruhnya hingga ke pelosok-pelosok daerah di seluruh Indonesia. Namun realitanya, tantangan dakwah di kota begitu kompleksnya, layaknya sebuah labirin. Dan untuk merdeka dari labirin itu, perlu diuraikan peta jalannya, perlu ditemukan polanya, sehingga siapapun da’i yang memasuki labirin itu, setidaknya tidak tersesat di dalamnya jika tidak bisa keluar sebagai pemenang. Di sinilah peran krusial dari buku ini, membantu menguraikan persoalan-persoalan dakwah di perkotaan, yang mungkin selama ini luput dari pandangan para da’i, bisa karena sudah menjadi budaya sehingga tak menganggapnya sebagai masalah, atau karena factor lain. 

Di bagian penutup, penulis mengetengahkan dua filosofi yang mewakili gagasan idealnya tentang bagaimana seharusnya gerakan hijrah berkiprah di tengah labirin perkotaan. Idealnya, gerakan dakwah harus terus bergerak mengalir sebagaimana fitrah air. Sebab bila tak melakukan itu, maka alih-alih menjadi subjek perubahan, mereka justru menjadi objek perubahan. Mengalir memang diperlukan bagi gerakan  hijrah, namun gaya mengalirnya perlu diatur agar alirannya tidak hanya mengikuti arus, namun tetap bisa membawa nilai-nilai Islam yang dalam dan substansial. Karena itu diperlukan gaya mengalir air tenang, ia dengan senyap tetap mengalir, namun dengan cara yang elegan dan menyimpan kedalaman nilai yang mulia. 

Gambaran tentang gagasan besar dari buku semakin jelas saat penulis membuka forum dengan menceritakan latarbelakang penulisan buku ini. Bagian menarik, dan ini membawa saya menemukan ikatan tema buku dengan Baitul Maqdis, adalah ketika penulis menceritakan wawancaranya dengan istri Ustadz Husein Gaza yang menceritakan kekaguman sekaligus menyayangkan beberapa hal. Kagum dengan kehangatan muslimin Indonesia memuliakan saudara-saudara mereka dari Gaza, namun di saat yang sama menyayangkan betapa ikhtilath masing sering terjadi di tengah lingkungan dakwah. Ikhtilath menjadi catatan penting sebab di Gaza hal tersebut merupakan aib bagi rakyat Gaza. Dan dari sinilah ketersambungan tema buku dengan Baitul Maqdis. Bahwa meski jauh jarak geografis kita dengan mereka, serta jomplang kualitas keimanan dengan mereka, ternyata dahulunya kita dan mereka mempunyai permasalahan yang sama. 

Masyarakat Gaza, dalam perspektif buku ini, adalah kaum urban yang berhasil keluar dari labirin-labirinnya. Masyarakat Gaza berhasil keluar dari labirin keluarga, tempat kerja, tempat publik, dan labirin dunia maya. Gaza secara ukuran memang luasnya hanya separuh Jakarta, namun bagaimanapun Gaza adalah area perkotaan penting dari dulu hingga sekarang. Gaza adalah kota pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan penghubung antara Mesir dengan wilayah Syam. Sebagai kota pelabuhan, Gaza tak hanya menjadi tempat berlabuh komoditas-komoditas dagang, namun juga membawa barang-barang ‘haram’ bersamanya seperti narkoba. Dari sanalah kemudian muncul problematika sosial pada masyarakat Gaza sebelum dakwah berhasil mengubahnya. Dan ketika Syeikh Ahmad Yasin hijrah dari Asqalan ke Gaza tahun 1948, beliau yang waktu itu masih berusia SD menghadapi situasi masyarakat Gaza yang sedang sakit. 

Sepulang dari Mesir, Syeikh Ahmad Yasin mengajar Bahasa Arab di madrasah untuk anak-anak. Dari catatan yang ada, bahkan di awal-awal belum ada motif dakwah, apalagi ke arah gerakan perubahan. Ketika itu beliau hanya fokus bekerja sebagai pengajar untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai lelaki di keluarganya. Dari sini mungkin bisa dikaitkan dengan labirin keluarga dalam buku, bagaimana rasa tanggung jawab itu hadir pada diri Syeikh Ahmad Yasin yang ketika itu sudah berada di atas kursi roda. Dan rasa tanggung jawab itu, boleh jadi yang mengantarkan beliau pada kesadaran tanggung jawabnya sebagai seorang da’i untuk melakukan perubahan pada masyarakatnya. 

  Syeikh Ahmad Yasin dengan segala keterbatasannya adalah seorang komunikator yang piawai menyampaikan pesan-pesannya. Kemampuan itu diperkuat dengan mental baja yang beliau miliki. Syeikh Musa Al-Syarif menyebut beliau sebagai pribadi yang mempunyai kemauan yang besar dan pantang menyerah dalam mewujudkannya. Ini bisa menjadi catatan untuk melihat dan memperbaiki kualitas para da’i kita. Dalam prakteknya, Syeikh Ahmad Yasin tak hanya mengajar Bahasa Arab, beliau menyadari sesuatu bahwa anak-anak dan remaja yang beliau ajar adalah pintu untuk melakukan perubahan pada labirin pertama. Oleh sebab itu beliau mengatur pelajarannya agar bisa berinteraksi dengan para orang tua, cara yang beliau lakukan adalah dengan menambahkan jam belajar sehingga dampaknya, para orang tua mulai komplain dengan jam belajar di Masjid yang padat. Di antara yang dikeluhkan adalah, anak-anak mereka mulai diwajibkan qiyamul lail, puasa sunnah, dan ibadah-ibadah lainnya. Tapi poinnya adalah, para orang tua mulai peduli dengan proses belajar anaknya, meski di awal-awal kepedulian itu disalurkan dalam bentuk komplain dan protes. Syeikh Ahmad Yasin melihat itu sebagai celah peluang untuk masuk ke para orang tua. Dari sana kemudian beliau memulai program untuk para orang tua. Dan proses perubahan itu terus bergerak dan mengalir dengan tenang. Di level nasional, Syeikh Ahmad Yasin memanfaatkan momentum penjajah Zionis yang sedang fokus menghadapi PLO yang ketika itu masih melakukan perlawanan dengan senjata. Jadi, di masa-masa awal sama sekali tidak ada aktifitas militer bahkan politik dalam pergerakan Syeikh Ahmad Yasin. Apa yang dikerjakan Syeikh Ahmad Yasin sebetulnya tak jauh berbeda dengan apa yang dikerjakan para da’i di perkotaan. Namun apa yang membuat dampaknya berbeda ? Mengapa yang satu sangat berdampak sedangkan yang lain dampaknya belum seluas yang pertama ? Jawaban itu hanya bisa diterawang dari dada para da’i, apa yang bergejolak di dadanya ketika menyampaikan dakwah, apakah dunia ataukah Izzah Islam ? 

Dari gerakan yang diinisiasi perorangan, tak lain adalah Syeikh Ahmad Yasin, barulah belakangan muncul kebutuhan untuk membentuk lembaga sosial yang legal. Didirikanlah lembaga sosial bernama Majma’ Al-Islamy yang membawahi program-program sosial seperti pengumpulan donasi, penyaluran bantuan, pembangunan Masjid, dan lain sebagainya. Meski dinamikanya berbeda, Syeikh Ahmad Yasin mulai bergerak dari labirin pertama ke labirin kedua. LSM-LSM yang hari ini banyak bergerak di Gaza, cikal bakalnya adalah dari Majma’ Al-Islamy ini. Labirin kedua adalah soal kesejahteraan sosial, dan dengan segala dinamikanya, Majma’ Al-Islamy hadir untuk menyelesaikan persoalannya. 

Di antara program utama dari Majma’ Al-Islamy adalah program pembangunan masjid di Gaza. Dan ada yang unik, Syeikh Ahmad Yasin mensyaratkan harus ada lapangan bola di samping Masjid untuk anak-anak bermain bola. Lapangan bola, adalah representasi labirin ketiga. Kuncinya bukan pada lapangan bola, tetapi bagaimana Syeikh Ahmad Yasin dengan bijaksana memfasilitasi hobi sebagian besar anak-anak Gaza di masa itu, bermain bola. Ini yang menjadi alasan ketika kita membaca biografi para pemimpin perjuangan Gaza yang telah Syahid, selalu saja ada keterangan skill hebat mereka dalam bermain bola. 

 Majma’ Al-Islamy ternyata tak cukup sebagai wadah untuk menyelesaikan permasalahan di Gaza. Ada satu labirin yang perlu diselesaikan. Meski tak ada dalam buku, labirin yang dimaksud adalah labirin penguasa. Dan penguasa Gaza ketika itu adalah penjajah Zionis. Kesadaran ini membawa Syeikh Ahmad Yasin memikirkan cara melawan mereka dengan senjata. Tidak ada satupun dari sirkel Syeikh Ahmad Yasin yang tahu bagaimana mendapatkan senjata. Mereka bergerak dari nol. Singkatnya, di antara yang dilakukan Syeikh Ahmad Yasin adalah memanfaatkan jalur mafia Gaza. Jadi Syeikh Ahmad Yasin membeli senjata dari mereka, tanpa tahu bahwa senjata itu juga berasal dari oknum Zionis. Dan ketika memulai aksi perlawanan dengan senjata, mafia tadi bermain dua kaki, sehingga pergerakan beliau langsung diketahui dan berujung pada penangkapan beliau. Kecerobohan ini membawa Syeikh Ahmad Yasin pada kesadaran untuk membersihkan Gaza secara menyeluruh dari jaringan mafia underground, termasuk di antaranya memberantas peredaran narkoba sebagai salah satu pelemah pemuda yang diselundupkan Zionis ke Gaza ketika itu. Bukankah hal serupa juga terjadi di perkotaan kita ? Boleh jadi, garis depan perlawanannya ada di sana, dan perlu dipikirkan secara serius bagaimana strategi menyelesaikan permasalahan tersebut.  

Kisah gerakan dakwah di Gaza hari ini menurut banyak pengamat sudah pada level selepas perang Ahzab, “sekarang giliran kita menyerang mereka bukan sebaliknya”. Dan di antara sisi lain dari Perang Taufan Al-Aqsha, adalah kemampuan mereka dalam mengelola labirin keempat. Di antara pelajaran berharga dari Gaza adalah mindset negarawan pada setiap warganya. Mereka dengan segala darah yang tumpah setiap detiknya, mampu bertahan satu suara tak akan meninggalkan Gaza. Dan bertahannya rakyat adalah kekuatan bagi mereka yang berjuang di garis depan dengan senjata. Setiap individu di Gaza dengan kesadaran penuh meyakini dirinya menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan. Ini adalah sikap mental negarawan, yang mementingkan kepentingan jama’ah di atas kepentingan pribadi dan keluarganya, dan benih pertama yang menanamkannya adalah seorang da’i guru bahasa Arab madrasah!

Catatan dan data soal Gaza saya sarikan dari buku biografi Syeikh Ahmad Yasin dalam bahasa Arab berjudul “As-Syaikh Ahmad Yasin: Hayaatuhu wa Jihaaduhu” karya Dr. ‘Athif ‘Udwan. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi bahan refleksi bersama. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top