Problem Algoritma Tiktok: Antara Otoritas Platform, Kerentanan Pengguna dan Ancaman Publik

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reuters Institute pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa netizen di Tiktok memiliki rata-rata tingkat pendidikan dan pendapatan lebih rendah dibandingkan dengan platform media sosial lainnya. Riset tersebut juga mengungkap karakteristik lain, seperti minat yang lebih rendah terhadap berita dan informasi, ketertarikan yang lebih rendah terhadap konten politik, rendahnya kesadaran terhadap dampak menyebarnya informasi palsu atau hoaks, sehingga menempatkan mereka pada posisi terendah dalam hal kepintaran diantara pengguna medsos lainnya. Kasus merebaknya hoaks pengungsi Rohingya yang diaruskan melalui konten Tiktok setahun lalu menjadi contoh nyata bahwa penyebaran hoaks yang tidak bertanggungjawab memberikan dampak mengerikan di dunia nyata.

Hasil riset Reuters Institute semakin terkonfirmasi dengan hasil riset Populix tentang “Persepsi Publik terhadap 100 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran” tahun 2024. Menurut Populix, mayoritas pengguna Tiktok kurang kritis terhadap kebijakan Prabowo-Gibran, yang memandang 100 Hari pemerintahan tidak ada masalah termasuk terkait arah kebijakan dan tingkat kepercayaan. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan respon pengguna X (sebelumnya twitter).

Mengapa ada perbedaan mencolok tersebut? Faktor-faktor apa yang menyebabkan algoritma Tiktok sangat berpotensi menimbulkan problem? Selengkapnya dapat disimak dalam rilis literacy report terbaru “Problem Algoritma Tiktok: Antara Otoritas Platform, Kerentanan Pengguna dan Ancaman Publik” oleh Departemen Media dan Dakwah Digital Institut Muslimah Negarawan.

2 komentar untuk “Problem Algoritma Tiktok: Antara Otoritas Platform, Kerentanan Pengguna dan Ancaman Publik”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top