Tekanan yang dialami Gaza, tentu saja tak dimulai dari 7 Oktober 2023, melainkan lebih dari 77 tahun sejak deklarasi ilegal pendirian “Jewish state” atau Negara Yahudi. Meski demikian, Gaza dan Palestina secara umum, hingga kini tetap menjadi arena perlawanan yang tak pernah bisa dikendalikan sepenuhnya. Mereka terus bertahan dalam debu-debu gerilya, menguatkan tekad, bersatu merajut ketakutan di dalam dada penjajah kuffar. Padahal, bukan hanya blokade total yang mereka hadapi, melainkan upaya pecah belah terus menerus yang digencarkan dalam makar. Fragmentasi secara jelas sengaja didesain entitas penjajah dan pendukungnya demi merealisasikan tujuan jahanam mereka: merampas tanah kaum muslimin untuk mewujudkan Eretz Israel atau “Tanah Israel”.
Di sisi lain, seakan menjadi “blessing in disguise”, Israel pecah dari dalam dengan sangat alami. Koalisi pemerintahan Israel seperti pesta makan malam dengan tamu-tamu yang semuanya alergi satu sama lain. Sayap kanan ekstrem, ultra-Ortodoks, sekuler liberal, semuanya duduk di meja yang sama, memperebutkan porsi kekuasaan. Hal itu segaris dengan situasi masyarakatnya yang tak kalah rumit. Ashkenazi vs Mizrahi, religius vs sekuler, Yahudi vs Arab Israel. Mereka mungkin terlihat bersatu saat sirene berbunyi, tapi dalam keseharian, Israel adalah republik yang sarat dengan identitas yang bercabang. Inilah realitas yang tak tertolak, bagaimana ayat 14 dalam Surat Al-Hasyr seakan menatap langsung ke jantung dinamika Israel hari ini, negara yang secara teknis dipropagandakan kuat, namun ternyata justru tercerai-berai.
Disinilah kajian soal fenomena perbandingan fragmentasi sosial politik dalam masyarakat Palestina versus Zionis menjadi semakin relevan. Khususnya dalam sebuah hipotesa apakah perpecahan/ fragmentasi yang terjadi itu alami secara internal atau buatan (dominan karena faktor eksternal). Jika Palestina berada dalam labirin buatan yang dibangun para penjajah, maka Israel tersesat di labirin yang mereka bangun sendiri. Arah keluar dari kekacauan ini bukan hanya soal strategi militer atau diplomasi elit. Ini soal narasi.
Palestina perlu keluar dari jebakan fragmentasi buatan dengan menyatukan faksi, menyusun ulang koneksi sosial, dan membangun kembali jembatan yang telah dihancurkan, menghidupkan kesetiaan kepada ideologi Islam, dan meludahi semua pintu kompromi. Sementara fragmentasi natural yang mengalir dalam darah zionis adalah kelemahan yang sangat mudah dihancurleburkan, ini lebih dahsyat dari roket-roket yang mereka luncurkan. Sehingga ini menjadi satu poin penting menuju kemenangan umat Islam, dengan catatan yang ditebalkan, jika umat Islam bersatu dan menolak memakan umpan pemecah belah.