Muslimah Insight

Islam dan Indikasi Uyghur Medical Genocide

Oleh Ayu Paranitha H. P.

Genosida adalah sebuah upaya penghancuran kelompok ras, politik, atau budaya yang disengaja dan sistematis. Kalau kita berpikir bahwa genosida hanya terjadi di masa lalu, maka asumsi kita sangatlah keliru. Hari ini di abad XXI yang dianggap sebagai abad modern yang disebut-sebut menjunjung tinggi hak asasi manusia, kita kembali menemukan fakta genosida. Bahkan yang lebih mengerikan, genosida ini dikaitkan dengan kepentingan medis, memenuhi kebutuhan global transplantasi organ yang terus meningkat.

Indikasi tersebut diungkap oleh Organ Harvest Research Center (COHRC), sebuah organisasi non profit yang meneliti tentang penyalahgunaan transplantasi organ di Cina. Organisasi ini menyebutkan bahwa Partai Komunis Cina (PKC) telah melibatkan negara dalam pembunuhan massal orang-orang tidak berdosa, tidak hanya pada kelompok spiritual Falun Gong, tetapi juga Muslim Uyghur, penganut Buddha di Tibet, juga beberapa aliran kepercayaan Kristen untuk mendapatkan organ demi kebutuhan transplantasi.

Komunisme menjadi senjata politik yang efektif sebagai alat legitimasi “peternakan manusia” untuk diambil organnya. Cina tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan organ di dalam negerinya, tetapi juga luar negeri. Tidak perlu menunggu dalam hitungan tahun, resipien cangkok organ cukup menunggu antara beberapa hari hingga beberapa minggu. Tentu kita patut bertanya tentang asal-muasal organ yang mampu disediakan oleh Rumah Sakit di Cina bagi pasien-pasiennya.

Peningkatan transplantasi organ di Cina meningkat secara eksponensial bersamaan dengan kampanye PKC untuk menghabisi pengikut Falun Gong dengan arahan untuk “merusak reputasi mereka, menghancurkan mereka secara finansial, dan menghancurkan mereka secara fisik.” Sejak kampanye ini dimulai pada Juli 1999, pengikut ajaran Falun Gong menghadapi hukuman penjara dan penyiksaan di kamp kerja paksa, pusat pencucian otak, dan fasilitas penahanan militer rahasia. Mereka juga secara paksa menjalani tes darah dan tes medis terkait dengan fungsi organ, baik dalam tahanan maupun di rumah mereka. Pada Mei 2017, sistem keamanan publik Cina telah membangun basis data nasional lebih dari 40 juta orang, termasuk oposisi pemerintah otoriter dan migran.

Kini Muslim Uyghur mengalami hal yang serupa. Sekitar 8 juta Muslim Uyghur yang tinggal di wilayah otonomi Xinjiang Cina menjadi sasaran tindakan pengawasan terketat di dunia. Bahkan pengawasan tersebut melampaui batas teritori Cina. Cina meregistrasi semua warga Uyghur di luar negeri, bahkan menggunakan intimidasi untuk mendapatkan informasi pribadi. Dalam dekade terakhir disebutkan bahwa Uyghur telah melakukan beberapa serangan di kota-kota besar Cina. Beijing telah menggunakan rasa takut yang muncul dari serangan-serangan tersebut untuk meningkatkan praktek pengawasan dengan dalih kontra teror. Pihak berwenang menggunakan 40.000 jaringan kamera pengenal wajah untuk memantau aktivitas Uyghur, dan baru-baru ini mulai mengumpulkan sampel DNA, sidik jari, pemindaian iris, dan golongan darah dari semua penduduk Xinjiang yang berusia antara 12 hingga 65 tahun. Associated Press melaporkan ratusan ribu warga telah dipaksa masuk ke “pusat-pusat pendidikan ulang,” yang bertujuan “mengembalikan pemikiran politik para tahanan, menghapus kepercayaan Islam mereka dan membentuk kembali identitas mereka.” Beberapa kelompok HAM mengatakan mungkin ada 1 juta Uyghur yang ditahan di pusat-pusat ini.

Di dalam Konferensi Donasi dan Transplantasi Organ Manusia di tahun 2017, Huang, Ketua National Organ Donation and Transpaltation Committee mempresentasikan transplantasi organ sebagai bagian dari China’s One Belt One Road (OBOR) Initiative, yang bertujuan untuk menguatkan ikatan politik dan ekonomi Cina dengan negara bagian lain di Asia, Eropa, Afrika Timur, dan Oseania. Tahoe Investmen Group pada November 2017 mendonasikan 1 juta RMB pada China Organ Transplantation Development Foundation (COTDF), menandatangani memorandum kerja sama strategis dengan University of Pittsburgh of Medical Center untuk mengimpor teknologi termasuk di dalamnya transplantasi organ. Ketika kebanyakan organ di Cina didapatkan melalui pembunuhan orang-orang tidak berdosa, pengaturan penyebaran organ sharing ini sama saja dengan mengekspor kejahatan keluar dari batas negara Cina.

Kapitalisme yang telah menjadikan keuntungan material sebagai Tuhan sembahan baru telah membunuh rasa kemanusiaan. Nyawa manusia kini telah dilabeli harga yang bisa ditebus oleh siapapun yang memiliki kemampuan finansial. Lalu negara hadir mengakomodir pembunuhan massal ini dengan kekuatan tangan besinya menggunakan dalih mengancam keamanan nasional. Apa yang menimpa Muslim Uyghur tidak hanya tentang indikasi terjadinya genosida medis atas mereka, tetapi juga wilayah Turkistan Timur menempati jalur mega proyek ambisius Cina, OBOR, tentu saja Cina sangat berkepentingan menundukkan wilayah ini demi kepentingan ekonomi politik Cina.

Pemerintah Cina telah lama melihat Uyghur sebagai masalah. Puluhan tahun Cina menerapkan kebijakan asimilasi disana tidak berhasil membuat bangsa Uyghur melepaskan bahasa, agama, dan budaya mereka sendiri. Sampai akhirnya pada 2016, pemerintah pusat Cina mengangkat Chen Quanguo sebagai sekretaris Partai Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang. Chen adalah sosok yang terkenal dengan tindakan represifnya terhadap etnis minoritas, sebagaimana apa yang dilakukannya pada masa jabatan sebelumnya di Tibet. Pasca investasi besar-besaran yang dilakukan Xi Jinping dalam proyek OBOR untuk menghubungkan Cina dengan Asia Tengah, Chen semakin keras menekan Uyghur hingga pada titik ekstrem yang membawa kita pada sebuah hipotesis bahwa apa yang dilakukan oleh Cina tidak lain adalah melakukan genosida atas etnis Uyghur.

Identitas Islam Uyghur sebagai Alat Politik Cina

Sejak Turkestan Timur (sekarang Xinjiang), diserang oleh Tentara Pembebasan Rakyat Cina pada tahun 1949, Muslim Uyghur terutama para intelektual Uyghur ditekan untuk loyal, patuh, dan sejalan dengan kepentingan pemerintah. Para Intelektual Uyghur diberikan insentif jika mereka mempromosikan kepentingan budaya, politik, dan ekonomi PKC. Sebaliknya, mereka dihukum jika mereka mempromosikan Islam yang menjadi akar budaya, politik, dan ekonomi mereka.

Pemerintah Komunis Cina terus memonitor gerakan intelektual Uyghur. Beragam upaya labelisasi terus berubah dari waktu ke waktu, borjuis kecil, revisionis, mereka yang memiliki ikatan dengan kekuatan musuh di luar negeri (kapitalis) pada 1960-1970-an; separatis pada 1980-1990-an; separatis dan/ atau teroris pada tahun 2000-an; mereka yang menunjukkan kecenderungan “three evils” (terorisme, separatism, dan ekstrimisme agama) setelah 2009; dan sekarang intelektual “bermuka dua”. Pemerintah Cina menganggap Uyghur gagal menunjukkan kesetiaan terhadap PKC. Terdapat perbedaan antara apa yang dipikirkan Uyghur dan yang ditunjukkan wajah mereka. Oleh karenanya, “muka dua” ini harus diperbaiki secara politis dengan apa yang disebut “re-edukasi”.

Ada yang mengatakan bahwa Cina menjamin kemerdekaan beragama, termasuk Islam disana dengan menunjukkan bukti etnis muslim Han tidak mendapat masalah sebagaimana Uyghur, mereka tetap merdeka menjalankan ibadah. Yang berkomentar seolah lupa bahwa saat ini pemerintah Cina sedang melakukan eksperimen Orwellian, dan itu dimulai dari Xinjiang. Diluar penangkapan secara random etnis Uyghur yang dianggap sebagai ancaman terhadap PKC, Otoritas Cina membuat Xinjiang menjadi tempat dengan titik pemeriksaan hampir di semua tempat. Cina menghabiskan lebih dari 8,8 miliar dollar membangun jaringan keamanan untuk mengontrol wilayah otonom di sebelah barat laut Cina. Cina juga terus melakukan pengembangan Teknik pengendalian seperti sistem pengenal wajah hingga pengumpulan DNA dari seluruh penduduk Xinjiang. Cina juga menerapkan social credit system yang akan memberikan benefit bagi mereka yang patuh pada pemerintah dan menghukum mereka yang bersebrangan dengan pemerintah. Semua berawal dari Xinjiang, dan akan diterapkan di seluruh Cina. Kisah fiksi yang ditulis oleh George Orwell kini menjadi realita.

Islam adalah sebuah ideologi yang memiliki landasan aqidah yang sangat bertentangan dengan paham komunisme. Maka sampai kapan pun, Muslim akan selalu menjadi musuh komunisme sampai Muslim meninggalkan semua praktek keislaman mereka. Islam bukan hanya kepercayaan yang terlepas dari kehidupan publik. Ketika seorang Muslim telah berserah diri kepada Allah maka mereka terikat untuk membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah, termasuk dalam kehidupan publik mereka. Apa yang dilakukan pemerintah Cina hari ini tentu mengingatkan kita pada apa yang dilakukan Firaun pada masa lalu,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِىٓ أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُۥٓ ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِى ٱلْأَرْضِ ٱلْفَسَادَ

Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. (QS. Al-Ghafir [40]: 26)

Setiap Muslim pasti sepakat bahwa apa yang dibawa oleh nabi Musa alaihi salam tidak lain adalah wahyu Allah, sedangkan Firaun telah berlaku dzalim dan nabi Musa diperintahkan untuk menyeru Firaun kembali pada Allah. Kita sepakat bahwa Firaun ada dalam jalan tersesat dan nabi Musa ada di jalan yang benar. Lalu kenapa Allah mengabadikan percakapan Firaun ketika ia menyebut bahwa nabi Musa hendak membuat kerusakan di muka bumi? Siapa yang sebenarnya sedang berbuat kerusakan? Kita sepakat bukan bahwa Firaun yang telah berbuat kerusakan? Tapi coba perhatikan kalimat yang digunakan oleh Firaun. Dia bilang telah terjadi kekacauan di eranya dan semua itu terjadi karena kedatangan nabi Musa, beliau membawa pemikiran baru yang akan membuat “bangsanya” berpaling dari pemikiran lama yang tunduk di bawah otoritas Firaun menuju ketaatan pada hukum Allah, Rabb semesta alam. Kehabisan ide untuk mempertahankan kekuasannya, maka kalimat yang keluar dari mulut Firaun bukan lagi tentang retorika kekuasaannya, tetapi keburukan yang menimpa khalayak dan kehidupan umum. Mirip dengan situasi yang kaum muslimin hadapi hari ini?

Persatuan Umat Islam di Bawah Otoritas Politik Khilafah sebagai Solusi

Sekelompok umat Islam menggunakan retorika Khilafah sebagai solusi atas apa yang menimpa muslim Uyghur pada khususnya dan menjadi metode kebangkitan Islam secara umum. Namun, sebagian orang tentu skeptis dengan opsi tersebut. Skeptisisme semacam ini dapat dipahami karena tanpa landasan iman dan moral yang kuat, penerapan hukum Islam dalam institusi yang memiliki otoritas menerapkan hukum Islam secara menyeluruh ibarat menyuapi anak dengan makanan yang tidak bisa dicernanya, efeknya tentu saja akan segera dimuntahkan.

Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam diutus tidak hanya melakukan perubahan dalam skala individu, tapi juga dalam skala masyarakat. Dalam skala individu, setelah iman dan standar moral telah terinternalisasi dalam diri seseorang penerapan hukum dapat segera diterapkan dalam skala individu. Seorang muslim memahami bahwa alkohol bagi mereka adalah haram dan segera meninggalkannya. Akan tetapi, melarang alkohol dalam skala masyarakat tentu tidak semudah itu. Maka kita akan melihat perbedaan karakteristik amar makruf nahi mungkar (menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan) di tengah-tengah masyarakat pada fase Mekkah dan Madinah.

Di Mekkah, Rasulullah lebih dominan dalam menyeru kepada moral, sedangkan di Madinah selain penekanan atas aspek moral, hukum pun ditegakkan. Manusia secara naluriah lebih cinta pada keadilan dibandingkan kezaliman, mereka membenci kehancuran, pembunuhan, mencintai kelestarian dan kedamaian. Tidak perlu iman untuk menjadi manusia yang bermoral ketika manusia mau kembali pada fitrahnya. Akan tetapi, Islam diturunkan untuk mengarahkan manusia ke jalan iman kepada Allah, menjadi kompas moral, dengan klimaksnya berupa tegaknya aturan ilahiah di muka bumi. Ketika menyeru pada perbaikan moral, tidak dibutuhkan kekuatan bersenjata. Berbeda dengan hukum, penegakkan hukum mebutuhkan otoritas. Itulah sebabnya, pada fase Madinah ketika pemikiran Islam telah diterima sebagai landasan moral, sebagai kompas kebenaran, maka dakwah Islam memasuki babak baru.

Utsman bin Affan radiyallahu anhu mengatakan, “Sesungguhnya Allah ta’ala memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh alQuran”. Hari ini kita menyaksikan bahwasanya apa yang menimpa muslim Uyghur memerlukan solusi lebih dari sekedar simpati dan doa. Perlu sebuah kekuatan politik yang menekan pemerintah Cina untuk menghentikan tindakan represif mereka. Apa kita masih berharap pada nation state? Tidakkah kita belajar betapa mandulnya pemerintahan negara bangsa jika sudah berhadapan dengan masalah “internal” negara lain? Jangankan terhadap negeri kafir seperti Cina, sesama negeri Islam saja masih ada yang saling memerangi. Berharap pada PBB? Berapa banyak resolusi yang berpihak pada umat Islam yang di-veto disana? Maka kita menemukan relevansi perkataan Utsman radiyallahu anhu, bahwasanya hanya penguasa Islam yang mukhlis yang mampu memobilisasi kekuatan umat islam, mempersatukan mereka untuk melawan pihak manapun yang berani menodai kehormatan agama dan umat ini. Bukan otoritas seperti yang hari ini kita lihat, dimana kita bisa melihat sebagian penerapan Islam seperti larangan peredaran alkohol dan kewajiban menutup aurat, tapi di saat yang sama korupsi merajalela, pertikaian sipil di dalamnya termasuk yang terburuk di dunia.

Tapi pertanyaannya bagaimana mewujudkan otoritas ini, yang sepeninggal Rasulullah dikenal dengan sebutan Khilafah? Institusi politik yang dilandasi oleh ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan penegakkan Islam oleh penguasanya. Tidak sesederhana memberikan suara pada calon tokoh politik untuk duduk di pemerintahan, karena kekuasaan tanpa kesadaran masyarakat adalah rapuh, ibarat bom waktu, pemerintahan semacam ini hanya menunggu waktu kehancurannya. Maka dakwah, pembinaan umat dengan pemikiran Islam dan sebuah kesadaran utuh untuk mewujudkan sebuah otoritas yang menjadi cerminan kesadaran ini adalah solusi yang paling masuk akal dan dapat dipastikan kelestariannya untuk menyelesaikan permasalahan Uyghur pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. Namun, seseorang mungkin akan berkomentar, korban telah berjatuhan hari ini, kita harus mengobati mereka, sekarang! Akan tetapi, dakwah menuju tegaknya khilafah ibarat sedang membangun rumah sakit, tidak ada yang terselamatkan ketika sang arsitek merancang bangunannya, ketika para engineer menentukan saluran perpipaannya, atau para tukang yang mengangkut batunya, begitupun paramedis yang belajar untuk bersiap mengisi Rumah Sakit itu, tapi bayangkan jika Rumah Sakit ini selesai, bukan satu dua orang yang bisa kita selamatkan, melainkan ribuan!

Jalan dakwah menuju persatuan umat ini di bawah naungan khilafah dapat dipastikan menjadi jalan yang panjang, jalan yang sunyi yang butuh usaha keras untuk meyakinkan umat terbaik ini. Sama seperti sulitnya saya untuk meyakinkan anda, para pembaca. Akan tetapi, jalan sulit bukan berarti tidak mungkin, dan anda sekalian lah yang mampu membuktikannya, ikut memperjuangkannya, sekedar menyaksikannya, atau malah turun untuk menghalanginya?

وَإِن تَوَلَّوْا۟ فَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَوْلَىٰكُمْ ۚ نِعْمَ ٱلْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ ٱلنَّصِيرُ

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. Al-Anfal [8]: 40)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *