Kelas Politik

Memaknai Aksi 212 dalam Kerangka Al Wala wal Bara’

Ayu Paranitha:
Pasca 212 cukup banyak media utama yg tidak menjadikan aksi ini sebagai headlines sehingga ada yg menyebut ini sebagai sikap black-out media mainstream terhadap 212, ada juga yg menyebut aksi media ini sebagai aksi bunuh diri massal, bagaimana tanggapan ustadzah?

Fika M. Komara:
voice note 1

Ayu Paranitha:
Berarti memang media black out ini terkait juga dengan ideologi yg diemban ya, ustadzah, yakni demokrasi Kapitalisme. Tapi, tidak dipungkiri juga masih ada segolongan umat yang masih “nyinyir” dan mengatakan kalau 212 tidak ada gunanya, terjadi ikhtilat, atau dikatakan justru mengkampanyekan hal yg makruh (dg menuliskan kalimat tauhid di tempat yg tidak memuliakan seperti di kaos, kerudung), dll, Bagaimana kita menanggapi ini?

Fika M. Komara:
voice note 2

Ayu Paranitha:
Fokusnya apresiasi syiar Islam ya, ustadzah,, dengan segala kekurangan aksi kemarin in sya Allah semoga jadi wasilah perbaikan pemahaman syariat di tengah-tengah umat, termasuk masalah pengaturan shaf solat, ikhtilat dan yg lainnya,, aamiin,, nah, sesuai dg tema diskusi kita, memaknai aksi 212 dalam Kerangka Al wala wal Bara’, sebenarnya apa yg dimaksud dg al wala’ walbara’ dan bagaimana seharusnya kita memandang gerakan 212 dalam konsep al wala’ walbara’ ini dan seberapa penting umat islam hari ini memegang konsep tsb?

Fika M. Komara:
Baik sy coba jawab dg tulisan ya biar tdk bosan dengar suara saya, bismillah
Al Wala’ wal Bara’ (Loyalitas dan Pengingkaran) adalah di antara konsep tauhid yang sangat penting sekali. Saking pentingnya kurikulum ini sampai dihapuskan oleh Arab Saudi krn permintaan Amerika Serikat

الو لاء والبراء
Ini adalah prinsip dasar Islam yang sejak lama diminta oleh Barat untuk dihapus dari kurikulum pendidikan di negeri-negeri Islam
Prinsip al-wala’ wal bara’ merupakan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dan diperintahkan Allah swt untuk umatnya, sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya,

Wahai orang-orang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin –auliya`-(mu); sebagian mereka adalah adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu yang mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.

Dalam kitab al Wala’ wal Bara’ karya Muhammad Said al Qahthani dijabarkan bab khusus bagaimana sih karakteristik al Wala dan al Bara’ pada periode Makkah (halaman 181-211). Periode inilah yang paling dekat dengan era kita hari ini, karena kaum mukminin sama-sama tidak memiliki junnahnya (daulah). Nah, bagaimana manifestasinya?

Ternyata selain iman, karakteristik wala’ pada periode Makkah tercermin pada kecintaan dan kesetiakawanan antar anggota jama’ah kaum Muslim kala itu. Sangatlah kuat ikatan wala’ di antara mereka..(hal. 188)Maasya Allah

Al Wala` Wal bara (kesetiaan dan disloyalitas) adalah di antara konsep-konsep penting Islam yang setiap Muslim harus pahami dan pegang teguh dengan jiwa mereka. Pada dasarnya konsep ini berarti kesetiaan kepada Allah, kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, sementara disloyalitas atau berlepas diri atau ketidakpercayaan tertuju kepada kaum kafir dan semua orang yang membantu mereka dengan cara apa pun.

Jadi 212 harus dimaknai dari kacamata kerangka al Wala wal Baraa’. Berlepas diri dari pihak2 yang tidak beriman, sekuler, liberal bahkan memusuhi Islam. Dan loyal serta mencintai mereka yang beriman apapun golongannya, selama mereka menunjukkan kecintaan thd Islam, kita perlu menunjukkan wala kita. Tentu wala’ kita yg pertama adalah kpd Allah dan RasulNya
Sebenernya kesimpulan bahwa 212 itu kampanye politik praktis itu menurut saya adalah penafsiran sebagian besar pihak yg tdk paham #aksibelatauhid, Tidak paham konsep tauhid, Termasuk al Walaa wal Baraa, Mereka tdk paham bahasa keimanan,

Wajar saja perdebatannya hanya ‘berhenti’ pada soal elektabilitas, pilpres..
Dalam bab VI, Muhammad Said al Qahthani menjelaskan penerapan al Walaa’ wal Baraa’ pada periode Madinah. Dimana saat periode Mekah manifestasinya adalah perintah berpaling dari kaum kafir, menegakkan hujah dan bersabar menghadapi kezhaliman kaum kafir. Maka untuk periode Madinah manifestasi al Wala’ wal Bara’ sudah berbeda, karena sudah tegak Daulah Islam dan perintah berjihad serta menegakkan Syariah Islam.

Maka garis pembeda kaum muslimin dengan kaum kafir menjadi semakin jelas, terutama dalam perintah Jihad. Sikap Baraa’ yang menjadi ciri khas periode Madinah adalah:
1. Tipu daya ahli Kitab (terutama Yahudi) terhadap Islam
2. Munculnya kenifakan orang2 munafik
3. Baraa’ (berlepas diri) dari kedua golongan di atas (ahlul kitab dan kaum munafik).

Rasulullah saw yg kala itu merupakan seorang kepala negara membuat kebijakan politik dalam negeri khusus terkait hal ini. Baik dalam pengokohan ikatan walaa’ yakni mempersaudarakan golongan Muhajirin dan Anshar, maupun dalam hal Baraa’ yakni mengikat perjanjian dengan kaum Yahudi di Madinah.

Luar biasa saat konsep al Walaa’ wal Baraa’ diimplementasikan dalam skala politik dalam negeri suatu negara maka semakin jelas mana al haqq dan bathil. Tidak seperti hari ini dimana nilai-nilai liberalisme sekuler dan sistem demokrasi imporan dari Barat justru menjadi bahan bakar politik dalam negeri, bangsa ini.. Tak ayal konflik horizontal menjadi komoditas melemahkan dan memecah umat Islam, posisi kaum munafik semakin kokoh, dan posisi umat Islam selalu tersubordinasi oleh kekuatan asing yang notabene kafir.

Yang menarik adalah penulis juga menguraikan karakter kaum munafik itu adalah mereka yang menyerahkan walaa’ nya pada kaum kafir, kebencian terselubung thd agama Allah, dan senantiasa berusaha melemahkan barisan kaum Muslimin (hal. 256).

Mungkin dalam konteks Indonesia perlu banyak kita renungkan dan refleksikan bagaimana kita berlepas diri dari kaum #munafik ini yang menjadi duri dalam daging perjuangan umat Islam. Demikian teh Ayu, sementara semoga bisa menjawab

Ayu Paranitha:
Ternyata sudah hampir jam 9 ya. Mungkin terakhir sebelum kita masuk sesi diskusi. Bagaimana kita menguatkan pemahaman alwala’ walbara’ ini? Untuk akhwatifillah siapkan pertanyaannya ya, dan semoga rido durasi waktu kelas politik kita bertambah

Fika M. Komara:
Nah disini sebenarnya PR besar umat Islam teh Ayu. Gelombang kebangkitan ini menyisakan PR besar bagi kita para pegiat kebangkitan. Mengutip pandangan Ust Arief B Iskandar, “Gerakan 212 bukan saja harus menjadi gerakan politik, tetapi sekaligus harus menjadi salah satu kekuatan politik Islam di negeri ini”.

Targetnya tentu bukan sekadar agar kaum Muslim bisa meraih kekuasaan. Yang lebih penting adalah agar Islam benar-benar berkuasa hingga negeri ini benar-benar bisa diatur dengan syariah Islam secara kaffah.

Perlu ada pembinaan yg intensif thd Umat agar lebih mengenal tauhid. Termasuk ajaran Islam yg komprehensif. Bahwa konsep Al Wala wal Baraa ‘ sesungguhnya hanya akan efektif jika diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat jg bernegara dibutuhkan teladan, keikhlasan dan kepemimpinan politik Islam yang kuat dengan kematangan blue print dan road map kebangkitan umat untuk mengawal gelombang ini. Ulama, ormas dan aktivis harus bersatu, merapatkan barisan. Wallahu a’lam bish showwab.. Dimatangkan saat sesi tanya jawab saja ya.. Demikian

Ayu Paranitha:
MasyaAllah,, baik, silakan akhwatifillah yg ingin menyampaikan pertanyaan nya boleh menggunakan icon seperti absensi tadi dan lgsg sampaikan pertanyaan nya, nanti akan kita pilih pertanyaan yg akan dijawab

Khaizuran Al-Mahdi:
Akankah aksi 212 dlm konsep al wala wal baraa’ mampu terkoneksi dg aksi yg sama seperti di Malaysia barusan?
Bagaimana peluang adanya akumulasi ke seluruh dunia dengan adanya frekwensi getaran aksi ini dimana kita tdk berharap hanya berakhir seperti Arab Spring

Ummu Fikri:
212 menjadi spirit terhadap optimisme persatuan umat sampai pada bangkitnya umat dengan tegakknya islam kaffah.Bagaimana upaya yg bsa dilakukan utk meningkatkan level berfikir umat dari kesadaran bela tauhid ke arah perubahan secara totalitas?

Mayka:
assalamualaikum ustadzah saya ingin menanyakan, bagaimana kira2 langkah kita nih sebagai pendakwah untuk mewujudkan kembali al waala wal baraa’ dalam diri umat sementara sekarang keadaan umat benar2 sudah nggak terkondisi dan bahkan banyak diantara mereka yang mulai islamlopobia takut dengan aturan agama sendiri

Indriani SE, Ak “Faaza”:
Jazakillah sebelumnya untuk ustazah fika atas materinya hari ini. Masya Allah luar biasa mencerahkan. Terutama terkait konsep al wala wal bara’ ini sendiri.
Sebenarnya saya tidak asing dengan istilah ini. Karena sebelumnya pernah membaca di buku fiqh Islam kontemporer semasa kuliah. Hanya saja yang disampaikan di sana pemahaman loyalitas dan disloyalitas pada penguasa muslim yang berkuasa. Tanpa menekankan pentingnya Islam itu sendiri berkuasa. Dan karena ini bukan pemahaman sembarang orang (ulama), pastinya ketika kita menyampaikan konsep al wala wal bara yang semestinya, itu akan menimbulkan sentimetil pihak tertentu (pro rezim/antek asing khususnya).
Jadi menurut ustazah, bagaimana menyampaikan konsep ini dengan cantik dan apik, agar umat benar2 tercerahkan dan terpahamkan tuk menempatkan konsep ini sebagaimana mestinya.

Musisi Ideologis:
Bicara konsep loyalitas dan pengingkaran. Bagaimana menyikapi umat yang merasa ahli tauhid tapi masih memberikan loyalitasnya pada penguasa sekuler hari ini ustadzah?
Tugas kita adalah membina umat agar punya frekuensi sama yakni hidup dalam naungan Islam. Tapi serangan dari sesama saudara muslim justri begitu kuat saat aksi 212 ini.
Mohon penjelasannya.
Dan apakah sikap mereka ada hubungannya dengan peta plitik barat yanh terus menempatkan agennya untuk menggagalkan perjuangan Islam.

Eka Saniaty:
Seperti yg ustdzh fika jelaskan tadi nampak jelas pengerdilan agenda sebesar 212 ini begitu masif dilakukan terutama oleh kubu oposisi yg mendompleng aksi ini.
Sejauh ini apakah keengganan para ulama,habaib dan asatidz thd sistem Islam merupakan efek dr msh adanya invisible hand dlm aksi ini?

Annisa Widayati:
Alhamdulillah,InsyaAllah bertambah wawasan saya malam hari ini. Jazakillah khoir Ust Fika. Saya mantan wartawan di salah satu tv berita, dan betul sekali, begitulah ideologi mereka. Pola pikir yg telah tertanam akibat sekulerism mmg sudah akut.

Anita:
Assalamu’alaikum ustadzah.. Saya ingin menanyakan peran strategis kaum muslimah dalam aksi 212 terutama dalam kerangka al waala wal baraa..karena peran kaum muslimah tdk hanya berperan dlm kuantitas tapi juga dr sisi edukasi umat termasuk anak2 ( generasi penerus)..

Annisa Widayati:
Menurut analisa ustadzah, bagaimana efek dari 212 thd politik global??

Ayu Paranitha:
Baik,, kita tutup dl pertanyaannya ya. In sya Allah akan dijawab oleh ustadzah fika melalui voice note

Hanaa Um Chareemah:
Alhamdulillah semakin mendapat pencerahan ustazah. Apakah reuni 212 dan persatuan umat yang begitu besar ini sebagai langkah awal kebangkitan islam? Ataukah suur umat ini bangkit hanya sebatas reuni 212?

Ayu Paranitha:
Dari pertanyaan yg masuk saya coba rangkuman poin pertanyaan nya
1. Follow up aksi sampai tegak Islam Kaffah di seluruh dunia
2. Meluruskan miskonsepsi wala bara thd penguasa incumbent
3. Bagaimana melawan pihak lain yg mencoba menunggangi aksi 212

Fika M. Komara:
Masya Allah, pertanyaannya luar biasa dr akhwatifillah semua.. Al Faqir coba jawab sekemampuan saya, bismillah
voice note 3
voice note 4

Ayu Paranitha:
Alhamdulillah sampai juga kita di penghujung acara kita, jazakunnallah khairan akhwatifillah,, semoga kita menjadi salah satu negarawan yg berpegang teguh pada roadmap perubahan yg dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,, dan proyek terbesar kita adalah kebangkitan Islam
Saya sebagai moderator kopi muslimah bulan ini mohon maaf atas segala kekurangan, saya kembalikan lagi kepada mba nindira

Nindira:
Saya mewakili seluruh admin mengucapkan
جَزَآكُمُ ﷲُ خَيْرًا…
sekaligus آسف جداً kpd akhwaty fillah, jk bnyak kekurangan…
Kita tutup forum qta mlm ini dg membaca istighfar, doa kafarotul majlis, & hamdalah…
اَسْتَغْفِرُ ﷲَ الْعَظِيْمَ…
اَسْتَغْفِرُ ﷲَ الْعَظِيْمَ…
اَسْتَغْفِرُ ﷲَ الْعَظِيْمَ…
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ…
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ…
والله أعلم بالصواب…
والعفو منكم…
الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS Al-Baqarah [2]: 147).
وَالسَّلاَمُ َعَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *