Nakhoda Perempuan BGN: Sanggupkah Membela Hak Laktasi Kaum Muslimah dari Gurita Formula?

gemini generated image w27ryaw27ryaw27r(1)

Forum Indept Talk yang diselenggarakan oleh Institut Muslimah Negarawan (IMuNe) bulan ini mengangkat tema strategis bertajuk “Nakhoda Perempuan BGN: Sanggupkah Membela Hak Laktasi Kaum Muslimah dari Gurita Formula?“. Acara yang diadakan secara istimewa melalui tatap muka di Rumah Cakrawala IMuNe ini menghadirkan tiga narasumber ahli, yaitu dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM (Dokter Anak, Pakar Laktasi, Pejuang ASI); Dian Kusumaning Tyas, ST (Konselor Laktasi, Chief Networking IMuNe) dan Dr. Fika Komara (CEO IMuNe), dengan dipandu oleh Mbak Putri sebagai moderator.


Diskusi ini mengupas tuntas fenomena menyusui dari kekayaan sudut pandang medis, filosofi Islam, hingga geostrategi, terutama dalam merespons kekhawatiran publik terhadap kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai penyertaan susu formula dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Melalui forum ini, ditekankan bahwa menyusui bukan sekadar aktivitas biologis, melainkan ibadah dan tanggung jawab kolektif antara ibu, ayah, dan negara untuk membangun fondasi peradaban yang muttaqun dan murabbitun.


Dalam paparannya, dr. Utami Rusli yang akrab disapa Puput ini menekankan bahwa menyusui adalah sebuah ibadah dan hak bagi ibu, bukan sekadar kewajiban. Poin-poin kunci medis yang disampaikan meliputi:

  • Inisiasi Menyusu Dini (IMD): Harus dilakukan segera setelah lahir melalui kontak kulit ke kulit (skin-to-skin) minimal selama satu jam. Dada ibu memiliki sifat termoregulator yang mampu menyesuaikan suhu secara otomatis sesuai kebutuhan bayi (menghangatkan atau mendinginkan).
  • ASI sebagai Cairan Hidup: Berbeda dengan susu formula yang merupakan zat mati, ASI adalah cairan hidup yang komposisinya berubah setiap saat mengikuti kebutuhan bayi, termasuk perbedaan nutrisi untuk bayi laki-laki dan perempuan.
  • Mekanisme “Coding” Air Liur: Melalui isapan langsung, air liur bayi memberikan informasi kesehatan kepada tubuh ibu, sehingga ASI yang diproduksi mengandung antibodi spesifik yang dibutuhkan bayi saat itu. Hal inilah yang membuat menyusui langsung jauh lebih unggul daripada pemberian ASI perah.
  • Bahaya Tidak Menyusui: Secara klinis, tidak menyusui meningkatkan risiko kanker payudara dan ovarium pada ibu, serta risiko pneumonia, kanker darah (leukemia), hingga autisme pada anak.


Narasumber kedua, Dian Kusumaing Tias yang akrab disapa Bundi ini menjelaskan bahwa secara filosofis, Menyusui sebagai Arsitektur Peradaban. Hal demikian berdasarkan tafsir Surah Al-Baqarah ayat 233, yang menjelaskan tentang Tiga Lapis Penjamin Laktasi. Menyusui adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan Ibu (pelaku ibadah), Ayah (penjamin nafkah dan pelindung), serta Negara (penjamin melalui Baitul Mal).

Bundi pun menceritakan kisah Khalifah Umar bin Khattab: Beliau pernah mengubah kebijakan negara dari memberikan tunjangan bayi setelah sapih menjadi sejak bayi lahir, demi menjamin ibu tetap fokus menyusui dan tidak terburu-buru menyapih demi uang tunjangan. Umar menyadari bahwa mengganggu proses menyusui sama dengan “membunuh” calon peradaban.


Selain itu, Menyusui bertujuan membentuk generasi Muttaqun (memiliki radar internal penolak kebatilan) dan Murabbitun (penjaga benteng akidah dan peradaban). Analogi “Kabel Data”: Menyusui langsung diibaratkan seperti mentransfer data melalui kabel data yang mengsinkronkan frekuensi ruhani antara ibu dan anak, sedangkan botol hanyalah pengisian daya baterai tanpa transfer nilai.


Narasumber ketiga Dr Fika Komara menjelaskan dari sisi Geostrategi dan Kritik Kebijakan Makro. Dr. Fika menyoroti kekhawatiran masuknya susu formula ke dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini dipandang sebagai bentuk ketundukan pada kepentingan korporasi/oligarki daripada perlindungan terhadap hak laktasi alami.


Dr Fika juga menjelaskan sekulerisasi di segala sektor termasuk dalam keluarga juga menjadikan aktivitas ibu menyusui dipandang sebagai material saja, tidak ada Ruh-nya (koneksi kita kepada Allah Swt), tidak ada nilai ibadah di dalamnya. Ayah pun hanya bertugas mencari nafkah, jadi seperti terkavling-kavling. Dalam Islam, gizi dan proses pemberiannya (menyusui) adalah satu kesatuan dalam amal saleh.


Selanjutnya Dr Fika menjelaskan bahwa Menyusui adalah langkah awal mencetak pahlawan seperti Muhammad Al-Fatih. Ibu adalah nakhoda yang mentransmisikan cita-cita strategis sejak bayi berada dalam pelukan. Oleh karena itu perlu adanya gerakan dakwah kolektif untuk mengimbangi narasi sekuler/feminis yang sering kali menjauhkan perempuan dari fitrah keibuannya demi kepentingan industri.


Khatimah


Diskusi ini menyimpulkan bahwa menyusui adalah proses bertiga (Ibu, Ayah, Bayi) yang harus didukung penuh oleh negara. Kegagalan menyusui sering kali bukan karena masalah biologis, melainkan kurangnya dukungan infrastruktur, literasi, dan kebijakan yang memihak pada fitrah manusia.


Aktivitas menyusui tidak boleh dipandang hanya sebagai masalah gizi fisik, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan peradaban Islam, yakni mencetak generasi Muttaqun (yang memiliki radar internal penolak kebatilan) dan Murabbitun (penjaga benteng akidah dan peradaban).


Rencana masuknya susu formula ke dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dipandang sebagai bentuk ketundukan pada kepentingan korporasi (oligarki) yang dapat merusak fitrah menyusui dan dianggap sebagai bentuk “dehumanisasi” terhadap bayi-bayi di Indonesia.


Oleh karena itu dibutuhkan amal jama’i (gerakan kolektif) untuk membela hak laktasi dari intervensi industry. Membangun ekosistem pendukung demi menjaga kualitas generasi masa depan dalam menyongsong peradaban mulia. [Kanti Rahmillah]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top