Muslimah Insight

Di Era Fitnah, Pergerakan Mahasiswa Muslim Harus Ambil Posisi!

Catatan Ramadhan bersama Kohati dan BMI

Saya bersyukur sekali, di penghujung Ramadhan, Allah Ar Rahman mempertemukan saya dengan sosok-sosok pejuang Muslimah yang mukhlish dan berani. Kenapa saya katakan berani? Karena di tengah hiruk-pikuknya narasi kebijakan dan media yang menuding ormas Islam dan pergerakan mahasiswa Islam di kampus, saya diundang hadir untuk menjadi pemantik diskusi yang judulnya juga sangat menantang, masya Allah …

Koordinator Nasional Korps HMI-Wati (KORNAS KOHATI) bekerjasama dengan Back to Muslim Identity Community (BMI) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion dan Buka Puasa Bersama pada tanggal 9 Juni 2018 lalu di kantor Dagang Syarikat Islam. “Reposisi Perjuangan Aktivis Muslim di tengah massifnya Islamophobia” ini judul menantang yang dipilih, luar biasa! Salut buat teman-teman Kornas Kohati dan komunitas BMI, barokallahu fiikunna…

Tertangkap dua kegelisahan di forum itu, yang pertama keprihatinan atas banyaknya persekusi yang terjadi dikalangan aktivis muslim dan stigma radikal yang dibiarkan liar menggelinding; kedua adalah kondisi mahasiswa sekarang yang semakin individualis dan apatis sehingga mudah termakan label liar yang dikonstruk oleh media-media partisan.

Saya mengutip perkataan Ibn Jauzi yang berkata: “Akal adalah simpanan terbaik dan bekal untuk menghadapi perang melawan bala’…” ini saya petik karena tanpa akal -yakni ilmu dan pemikiran- akan ada begitu banyak mahasiswa dan masyarakat yang mudah termakan fitnah. Label radikal yang demikian liar menggelinding serta situasi politik nasional yang memberi panggung pada kebijakan Islamophobia, membuat mereka yang awam agama akan mudah terpengaruh secara psikologis, lantas bersikap defensif apologetik.

Karena itu pergerakan mahasiswa Muslim sebagai subjek perubahan tidak boleh reaktif, tapi tidak boleh juga berdiam diri, karena diam sama dengan terbungkam dan bungkam sama dengan lonceng kematian bagi nalar kritis mahasiswa. Tetaplah tegar sambil terus menggali pemikiran Islam dengan bahan bakar iman, agar berani bersikap, berani  bersuara dan berani ambil posisi. Walaupun konsekuensinya harus berhadap-hadapan dengan penguasa.

Ambillah posisi sebagai pembela Islam dan bersuaralah untuk kebenaran, karena sesungguhnya mengutip dari perkataan mbak Rabihah – senior Kohati yang juga hadir di FGD – menjadi intelektual itu justru harus radikal, harus menyentuh akar persoalan keumatan, dan harus berani mengkritik ketidakadilan. Saya juga mengambil contoh tentang definisi “deradikalisasi” yang sangat popular hari ini, dari banyak kajian secara konseptual – deradikalisasi ini sebenarnya adalah konsep yang digodok oleh Amerika Serikat lalu diimpor oleh negeri-negeri Muslim, dimana hingga saat ini, program radikalisasi dan kontraradikalisasi hampir secara eksklusif hanya ditujukan kepada komunitas umat Islam. (Laporan Syamina, 2015).

Banyak aktivis dan intelektual yang masih sehat nalarnya akan merasa terhina, karena intelektualitasnya diremehkan oleh ketidakadilan extravaganza yang terus dipertontonkan. HMI sendiri juga menjadi saksi hidup bagaimana sejarah kembali terulang, perpecahan HMI di era sebelumnya adalah tentang Pancasila sebagai asas tunggal. Lalu saat ini Pancasila kembali dijadikan alat gebuk untuk memecah belah publik dengan politik stick and carrot “bersama kami atau bersama kaum anti NKRI radikal”. Namun lucunya  sikap penguasa justru seringkali tidak Pancasilais, karena sangat radikal dalam berhutang, impor beras, mendiamkan kesenjangan dan kemiskinan pada rakyat, menyerahkan proyek infrastruktur pada asing, menebar teror kediktatoran, dan melakukan persekusi pada setiap kritik.

Semua kegaduhan politik ini sungguh menjadi ujian besar bagi setiap pergerakan mahasiswa Muslim di Indonesia. Di tengah perintah berpuasa agar menjadi kaum bertaqwa, umat Islam di Indonesia disuguhkan drama kebijakan sistematis yang menyudutkan ideologi Islam dan ajarannya selama Ramadhan. Tidak ada lagi warna abu-abu sekarang, yang ada hanyalah hitam dan putih… karena Ramadhan menjadi pembedanya

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185)

Percayalah, narasi Islamophobia yang terus digulirkan tidak akan pernah bisa menghentikan cahaya dakwah Islam yang sudah telanjur bersinar. Rezim sekuler ini harus menerima kenyataan perubahan jika umat menghendaki Islam, demi menyempurnakan ketaqwaan sebagai umat terbaik, umat Muhammad Saw…

HadaanaLLAH waiyyakum ajma’in

Jakarta 9 Juni 2018

Ukhtukum

 

Fika Komara

CEO Institut Muslimah Negarawan

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *