Problem Perilaku Digital Berisiko: Analisis Kritis Faktor, Dampak dan Fokus Perbaikan

Benarlah ketika dikatakan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nidzomul Islam bahwa mafhum (pemahaman) seseorang akan mempengaruhi suluk (perilaku).Ketika pemahaman seseorang tidak dilandasi asas yang benar (shahih) dan kokoh, maka perilaku seseorang akan mudah dipengaruhi oleh pemahaman yang salah. Mudah terbelokkan dan terjerumus pada perilaku yang merusak, yang berdampak tidak hanya di dunia namun juga akhiratnya. Salah satu yang harus diwaspadai adalah bagaimana teknologi, ketika tidak dibimbing oleh wahyu, dapat berisiko terhadap fisik, mental, pemikiran dan perilaku seseorang. Bahkan mengendalikan pilihan hidupnya hingga merusak masa depannya.

Dalam kehidupan sekuler hari ini, teknologi nyatanya tidak saja memberi kemudahan, namun menimbulkan banyak risiko di tengah masyarakat luas. Masyarakat Risiko atau risk society menurut Ulrich Beck dalam tesisnya, ”Risk Society: Toward a New Modernity”, menjelaskan ”risiko” (risk) sebagai, “kemungkinan-kemungkinan kerusakan fisik (termasuk mental dan sosial yang disebabkan oleh proses teknologi dan proses-proses lainnya, seperti proses sosial, politik, komunikasi, seksual”. Setidaknya terdapat tiga ekologi atau macam risiko yang di sebutkan oleh Beck, antara lain : risiko fisik-ekologis (physical-ecological risk), risiko sosial (social risk), dan risiko mental (psyche risk). Dalam konsep Islam, risiko ini sesungguhnya telah dimasukkan dalam konsep maqaashid asy-syarii’ah (makna-makna dan tujuan-tujuan yang dibawa oleh syariah), dimana faktor risiko sudah dicegah sedemikian rupa melalui jaminan pelaksanaan hukum syariah yang merujuk pada aturan Pencipta yaitu Allah swt. Mencakup penjagaan dari aspek agama/akidah (hifz al-din), jiwa atau nyawa (hifz al-nafs), pemikiran
atau akal (hifz al-‘aql), keturunan termasuk kehormatan (hifz al-nasl) dan harta (hifz al-mal).


Platform media sosial, kini menjadi media dengan pengguna yang terus meningkat. Bahkan menjadikannya sebagai sumber mendapatkan dan menyebarkan informasi, sumber mencari dan menampilkan hiburan dan sumber mendapatkan penghasilan. Tanpa disadari, platform sengaja didesain untuk mendapatkan loyalitas pengguna
(kecanduan), agar mereka betah untuk berlama-lama di depan layar demi kepentingan pasar. Raksasa digital menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk meriset perilaku pengguna, termasuk mendalami faktor yang mempengaruhi aspek pemikiran, psikologis dan perilaku manusia untuk menarik sebanyak-banyaknya pengguna loyal agar mudah dimanfaatkan baik dari aspek data, iklan, persebaran opini, yang selanjutnya dapat digunakan untuk kepentingan ekonomi maupun politik. Ini menjadi bagian faktor yang mendorong munculnya banyak risiko ditengah masyarakat, karena sekulerisme akan menghalalkan segala cara demi mengejar kemanfaatan materi semata, bahkan oleh negara.

Departemen Media dan Dakwah Digital IMuNe merilis digital literacy report yang berjudul “Problem Perilaku Digital Berisiko: Analisis Kritis Faktor, Dampak dan Fokus Perbaikan”. Baca selengkapnya dalam dokumen berikut:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top