Muslimah Insight

Rohingya dan Batas Nalar

Oleh: Cut Putri Cory S.Sos*

Militer Myanmar membantah pemerkosaan yang dilakukannya terhadap ribuan Muslimah etnis Rohingya di Rakhine, sebelum PBB akhirnya dapat membuktikan bahwa telah terjadi pelanggaran HAM di wilayah itu. Namun apa yang berbeda bagi Rohingya sebelum dan setelah pembuktian bahwa benar telah terjadi genosida adalah kecewa mereka bertambah-tambah, karena faktanya tak ada satupun negara dan organisasi antar bangsa di dunia ini yang mampu menghentikan para begundal junta militer membakar rumah dan memerkosa para Muslimahnya.

Penyiksaan terjadi setiap hari, gelombang pengungsi tak terbendung. Mereka melapak di kamp-kamp pengungsian menahun tak kuasa kembali ke tanahnya. Sementara bantuan makanan terus mengalir, selimut dan pakaian, bahkan semua itu dibawa bersama kunjungan orang-orang penting. Empati dari penjuru bumi tersentuh, menggugah kepekaan dan kepedulian terhadap malapetaka yang menimpa etnis Rohingya. Namun tak ada satupun yang bisa menunjuk hidung Aung San Su Kyi dan membuatnya mengerti apa arti nyawa manusia. Akhirnya Rohingya terhenti di pikiran setiap individu, setiap diri tersentak karena penderitaannya, kemudian muncul perasaan empati, dan terhenti di situ.

Tak ada yang kuasa menahan perlakuan biadab dan trauma mendalam dari perkosaan bertubi-tubi yang dialami Muslimah Rohingya, bahkan sebagian besar dari mereka menanggung beban batin sambil juga harus hamil dan melahirkan anak-anak dari pemerkosaan itu. Sebagaimana dikutip MuslimahNews.com dari CNN (29/8/2018), di pintu masuk ke kamp, LSM telah mendirikan klinik di mana para wanita dapat melahirkan. Dokter Tanpa Perbatasan (Doctors Without Borders/MSF) memperkirakan bahwa pada suatu waktu, ada sekitar 30.000 wanita hamil di kamp. Setiap bulan, 3.000 dari mereka melahirkan, menurut MSF.

Pejabat MSF mencatat 443 korban perkosaan antara akhir Agustus dan akhir Mei 2017. Hope Foundation, LSM lain dengan jaringan klinik, menangani 102 dalam lima bulan pertama krisis. Mereka menjelaskan bahwa apa yang dialami etnis Rohingya ini seperti fenomena gunung es, diyakini masih ada ribuan atau bahkan puluhan ribu korban perkosaan di kamp-kamp pengungsian. Mayoritas korban enggan mengakui apa yang dialaminya karena malu dan dihantui rasa takut.

Kerasnya hidup yang dialami Muslimah Rohingya sudah tak lagi dapat diterima akal sehat. Penyiksaan di luar batas nalar dilakukan para binatang yang mengaku mengejar para pemberontak. Mereka pantang melihat di sebuah rumah yang mereka sambangi terdapat kaum Hawa di dalamnya, sebelum mereka membakar rumah itu, akan lebih dulu mereka merudapaksa sambil menyiksa beramai-ramai wanita mulia para Muslimah Rohingya.

Bahkan ada yang digantung di tiang selama berhari-hari setelah kekerasan seksual bertubi-tubi yang dialaminya. Tanpa pembelaan dunia. Tak ada yang mampu menghentikan dan menghukum para junta militer atas kebiadaban yang mereka lakukan. Sampai nalar berdecak keheranan membayangkan kengerian, betapa penyiksaan itu gamblang dipublikasi media-media internasional yang dapat diakses manusia penghuni bumi, termasuk para aktivis HAM. Alhasil kita patut menggugat gaung HAM yang memang pada faktanya ternyata tak cukup sakti untuk bisa menolong Rohingya.

Negeri-negeri Muslim, para pemimpinnya yang hidup mewah dan berdialog dari satu forum ke forum lain, tak menyinggung persoalan Rohingya kecuali apa yang juga membuat batas nalar kita terusik. Lagi-lagi, isu kemanusiaan digembar-gembor. Namun semua itu berakhir di meja diskusi, tak sampai pada pembuktian solusi hakiki.

Inilah nalar yang dilanggar jauh melewati tanggul-tanggul akal, meluap seperti tsunami yang menghantam para pemikir. Berakhir pada sikap individualistis yang tertuju pada satu kalimat, “Yang penting kita aman.” Tak mampu dijangkaunya penderitaan orang lain kecuali apa yang menyangkut kepentingan pribadinya. Rantai inilah yang sedang membelenggu nalar. Apa daya, kesempitan dan keterancaman telah membuat kita bernafsi-nafsi. Diperparah sekat imajiner nasionalisme menjadi benteng pemisah antara kita dan Rohingya.

Nalar seperti apa yang kita miliki, terkhusus para penguasa yang selayaknya tak berbuat atas dasar nalar level rakyat. Jika rakyat menolong dengan mengirimkan selimut, makanan, dan bantuan obat-obatan, maka selayaknya negara mampu melakukan lebih dari itu. Mulai dari tekanan politik sampai militer. Itu jika nalar memang digunakan sebagai alat mendeteksi masalah dan solusi. Sehingga forum-forum mewah para penguasa tak lagi sekadar lobi politik tak berpengaruh, namun bisa sangat kuat bargaining power-nya dalam upaya menciptakan perdamaian di dunia.

Pun nalar dalam memahami ukhuwah sebagai satu kewajiban yang menuntut saudara seakidah menghentikan penyebab derita yang dialami saudara sesama Muslimnya terasa hambar. Rohingya meratap dengan ratapannya sendiri, kita di negeri ini yang mayoritas Muslim terbesar di dunia memiliki nalar yang tersekat batas-batas teritorial. Lagi, level individu dalam menalar ukhuwah tentu berbeda jika negara yang pasang badan untuk menjaga ukhuwah. Namun apa mau dikata, tanggul nalar sudah hancur. Akhirnya Rohingya mentok dalam ingatan, perkosaan demi perkosaan terus berulang, dan tak ada yang mampu menghentikannya. Sampai kapan?[]

*Ibu Penggerak Opini, berdomisili di Bogor.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *