Berau merupakan kabupaten terbesar ketiga di Kalimantan Timur yang menjadi pintu gerbang pembangunan Kalimantan Timur bagian utara. Kondisi geografis Kabupaten Berau berupa daratan, lautan dan pulau-pulau kecil membuat kabupaten ini memiliki banyak potensi flora dan fauna yang juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Berau dalam menjaga kelestarian dan fungsi strategisnya sebagai penyeimbang iklim dunia.

Daerah pesisir Berau yang menawan telah banyak dikenal dengan panorama memukau yang menarik wisatawan Dalam dan Luar Negeri. “Maldives nya Indonesia” begitu julukan yang disematkan oleh traveller bagi keindahan pulau-pulau Pesisir Berau. Selain keindahan bahari, ekowisata yang mulai digalakkan Pemerintah Kabupaten Berau saat ini adalah wisata hutan Mangrove dengan berbasis konservasi.

Program konservasi hutan mangrove mendapat perhatian besar lembaga lingkungan hidup dunia, program pemberdayaan ekonomi perempuan dan remaja berbasis konservasi dilakukan di daaerah-daerah pesisir yang dikenal erat dengan problem sosial dan ekonomi. Berau yang sejatinya kaya sumber daya alam berupa mineral, minyak dan gas harusnya mampu mensejahterakan penduduknya yang hanya terdiri dari 7 jiwa per km2.

Menjadi pertanyaan untuk dikaji mengapa konservasi hutan mangrove yang disorot sebagai sumber pendapatan ekowisata yang di daulat mampu meningkatkan kondisi ekonomi penduduk, sementara sumber daya yang jauh lebih besar dikelola oleh perusahaan raksasa swasta / asing. Sementara tingginya aktivitas pertambangan dan penggalian di Kabupaten Berau cukup memberi dampak signifikan dalam penurunan kualitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Hal ini harus menjadi perhatian lebih bagi seluruh pengambil kebijakan untuk lebih waspada terhadap dampak degradasi kualitas lingkungan hidup dibandingkan konservasi hutan mangrove.

Silahkan baca selengkapnya di:


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *