“Kidfluencers” – Anak yang memiliki pengikut besar di media sosial– menyumbang sekitar $8 miliar dari industri periklanan di media sosial dan diperkirakan akan meningkat hingga $15 miliar pada 2022. Sisi gelap fenomena ini adalah orangtualah yang memiliki kekuatan mengontrol konten dan pendapatan anak dengan melibatkan anak dalam aktivitas komersial. Keuntungan finansial yang menjanjikan ditopang iklim melihat materi sebagai standar keberhasilan saat ini, menjadikan anak seringkali ikut menikmati untuk tampil di media sosial, alih-alih dianggap ‘dipekerjakan’ oleh orangtua. Pada banyak kasus, orangtua akhirnya tidak bekerja dan mengandalkan pendapatan dari endorsemen anak. Orangtua memilih fokus menjadi content creator anak karena pendapatan yang menjanjikan.

Sebuah film dokumenter BBC yang berjudul “Influencer: Bahaya dibalik popularitas di media sosial” mengungkap sisi negatif dampak influencer terutama bagi pelaku anak-anak, antara lain:

  1. Algoritma youtube berpihak pada akun yang produktif. Ini menyebabkan harus kontinyu dalam memproduksi konten. Saat konten ‘hiatus’ karena suatu hal, maka akan sangat berpengaruh terhadap kunjungan penonton Kerja keras memproduksi konten dan tekanan trafik pengunjung bagi seorang anak dapat memicu kegalauan bahkan depresi.
  2. Kebiasaan di depan layar menyebabkan anak kesulitan bergaul di situasi sosial dunia luar dan kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut semakin menyebabkan anak menarik diri dari dunia luar dan tidak siap menghadapi masalah.
  3. Karakter ciptaan yang tampak ‘serba baik-baik saja’ seringkali menyebabkan rasa inferior dan tidak percaya diri akibat karakter palsu yang diciptakan.
  4. Interaksi dengan pengikut di media sosial seringkali adalah interaksi semu. Faktanya mereka bukanlah teman yang betul-betul bisa berada di sisi mereka dan membantu ketika mengalami masalah dan kesulitan. Padahal anak-anak/remaja membutuhkan komunitas yang mampu menciptakan iklim kebersamaan yang sesungguhnya.
  5. Meningkatnya ‘mass narcissism’ yaitu kondisi dimana menganggap dirinya adalah yang terbaik, penting dan harus dikagumi. Seringkali tidak siap dengan kritikan dan sangat mudah tersinggung. Mass narcissism dalam film dokumenter “Social Media Danger Documentary, Chilhood 2.0” dapat menyebabkan kegelisahan dan depresi, yang diduga meningkatkan kasus bunuh diri di era digital.

Problem negatif kid influencer agaknya wajib menjadi perenungan bagi para orangtua, terutama bagi seorang muslim. Menjadikan seorang anak berpengaruh bukan dalam hal agama dan kebaikan, dan hanya demi rupiah adalah sebuah kedzaliman. Seorang muslim wajib menanamkan pada anak-anak rasa percaya diri dan keteguhan sikap yang kuat, terutama dalam menyampaikan kebenaran. Terlebih dalam era dimana ajaran agama wajib dipegang teguh ditengah gempuran pemikiran yang menyerang dari berbagai sisi. Bukan menjebak anak-anak menjadi generasi yang mudah baper, inferior, bahkan rentan depresi.

Sumber :

  1. Dokumenter BBC Indonesia. Influencer: Bahaya di balik popularitas di media sosial. 2019. https://www.youtube.com/watch?v=sfyl_A289mw
  2. Dokumenter “Social Media Dangers Documentary — Childhood 2.0”. https://www.youtube.com/watch?v=He3IJJhFy-I
  3. https://www.humanium.org/en/kidfluencers-and-social-media-the-evolution-of-child-exploitation-in-the-digital-age/

Categories: Infografis

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *