Catatan Geopolitik

Catatan Perjalanan ke Palembang: Sindrom Chicago Membayangi Kota Empek-empek

Membuka Ramadhan 1439 H ini, saya dan tim IMuNe diberi kesempatan Allah Swt mengunjungi kota Palembang selama dua hari, 19-20 Mei 2018. Masya Allah.. Bertemu dengan para tokoh penggerak dakwah dan aktivis Muslimah muda #YukNgaji di kota Palembang, Alhamdulilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat…

Kesan pertama menjejakkan kaki di Palembang, saya terpana dengan pembangunan pesat infrastruktur kotanya, luar biasa. Setelah beberapa tahun tidak ke kota ini saya juga terkesima dengan kemegahan bandaranya, lalu yang spektakuler adalah adanya pembangunan LRT di sini, wow! katanya sih demi mempersiapkan ASIAN Games yang akan diselenggarakan Agustus 2018 mendatang. Namun ironisnya, di bawah pembangunan LRT itu ada banyak sekali jalanan rusak dan berlubang yang menurut cerita sang supir Go-Car yang kami tumpangi – jalanan rusak ini sudah banyak memakan korban jiwa akibat kecelakaan, terakhir korbannya adalah ibu dan anak. Astaghfirullah!

Fakta kontras yang memilukan ini langsung mengganjal di hati saya, karena sebelum ke Palembang saya memang sudah banyak mendengar tentang mega-proyek Jakabaring Sport City, kisah soal ambisi pemerintah mengejar gengsi. Gengsi menjadikan Palembang sebagai tempat terselenggaranya event-event olahraga internasional, demi menggenjot ekonomi dan pariwisata Indonesia.

Berkah bulan Ramadhan, rupanya membuat ganjalan di hati saya bisa terurai satu persatu. Hari pertama saya bertemu dengan para tokoh penggerak dan pemikir Muslimah Sumatera Selatan, dalam workshop Muslimah Timur Jauh di Hotel Azza, kami banyak berbagi dan membahas beberapa naskah narasi yang masuk, masya Allah. Hari kedua adalah bedah buku Muslimah Negarawan dan Empowering Muslimah yang mendiskusikan cita-cita besar kaum Muslimah di Palembang.

Subhanallah ternyata terungkap banyak aspirasi dan kegelisahan warga Palembang di kedua forum itu, entah mengapa semua kegelisahan itu membuat saya teringat dengan Sindrom Budaya Chicago, begitu seorang profesor Malaysia menyebutnya. Prof. Dr. Mohd. Kamal Hassan mengenali gejala-gejala dari kehidupan kota – kota Besar di Amerika Serikat dan negara Barat lainnya yang “mencapai kemajuan ekonomi namun mengalami kerusakan peradaban” dan ini merupakan karakter dari negara-negara maju hari ini. Pembangunan pesat senantiasa diiringi dengan krisis sosial, keruntuhan institusi keluarga, meluasnya kriminalitas, kekerasan terhadap perempuan dan anak, tingginya angka bunuh diri, hingga anjoknya angka kelahiran dan pernikahan akibat massifnya pelibatan perempuan sebagai angkatan kerja.

Gejala ini mulai terasa di kota Palembang akan saya coba urai dalam dua pokok persoalan berikut:

 

Pembangunan demi gengsi atau demi rakyat?

Bukan kali pertama Palembang mendampingi Jakarta sebagai tuan rumah dalam ajang olahraga akbar. Sebelum Asian Games, yang bakal berlangsung dari 18 Agustus hingga 2 September 2018, Palembang juga pernah jadi tuan rumah SEA Games 2011. Ambisi mercusuar Palembang sebagai kota olahraga dunia ini digaungkan oleh Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, yang telah membangun dinasti politik sejak ia menjabat bupati Musi Banyuasin pada 2002, lalu menjabat gubernur selama dua periode sejak 2008.

Ety Azuar, peserta workshop Muslimah Timur Jauh dan juga seorang tokoh intelektual Muslimah di Palembang menuliskan narasi tentang kegundahannya soal paradoks pembangunan infrastruktur di Kota Palembang dengan gurita kemiskinan yang masih menjerat masyarakat Palembang. Proyek- proyek besar, seperti light rail transit (LRT), rencana pembangunan terowongan bawah air, dan banyak lagi pembangunan infrastruktur lainnya terkait Asian Games, sangat dibanggakan oleh Pemerintah Provinsi Sumsel dan Pemerintah Kota Palembang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa, kesejahteraan warga Palembang akan meningkat pesat dengan seiring pertumbuhan pembangunan infrastruktur tersebut.

Namun bila kita lihat secara seksama, tutur Ety, masih ada 12,9% dari 1,6 juta penduduk Palembang yang masih tercekik kemiskinan (BPS, 2016). Sedangkan untuk keseluruhan Sumsel, jumlah orang miskin mencapai 13,77% Itu dengan hitungan garis kemiskinan Rp378.739. Artinya, berbanding terbalik dengan pesatnya infrastruktur.

Kritik terhadap pembangunan Jakabaring Sport City datang dari Nirwono Joga – pengamat pertumbuhan kota-kota olahraga di dunia yang dilansir oleh Tirto – menurut Joga, pola pembangunan JSC boros, dari penempatannya yang dipusatkan di Jakabaring, atmosfer olahraga yang kurang terasa dari Palembang, hingga pemilihan LRT (kereta api ringan) yang dianggap keliru untuk moda transportasi. “Selama saya ke Palembang, enggak ada nuansa olahraga. Di sebelah Masjid Agung di tengah kota itu ada, tapi sering kosong. Sungainya harus sering dipakai sebagai tempat latihan olahraga dayung. Kalau masyarakatnya tidak pencinta olahraga, bisa dipastikan Jakabaring tidak (akan) hidup. Ia hanya akan hidup kalau ada pertandingan.” Kritik Joga ini jelas semakin membuktikan pembangunan JSC samasekali belum membangun ranah sosial masyarakatnya alias minim visi sosial untuk rakyat, apalagi kesejahteraan.

 

Bayang-bayang Sindrom Chicago: Pelan tapi Merasuk

Sindrom pembangunan pesat yang senantiasa diiringi dengan krisis sosial, keruntuhan institusi keluarga, meluasnya kriminalitas, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga anjoknya angka kelahiran dan pernikahan akibat massifnya pelibatan perempuan sebagai angkatan kerja – perlahan mulai membayangi Palembang.

Selain terkenal dengan begal-nya, kasus kekerasan lain juga kian marak. Cici Rafika, peserta workshop Muslimah Timur Jauh di Palembang, mengutip melalui laman sripoku.com dalam narasinya, memaparkan Palembang menjadi kota dengan tingkat tertinggi di Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai kota dengan tindak kekerasan pada perempuan dan anak, dengan jumlah kekerasan sebesar 126 kasus sepanjang tahun 2017. Berbagai tindak kekerasan terbesar pada fisik dan seksual, sedangkan untuk keseluruhan jumlah kasus kekerasaan di Sumsel berjumlah 702 kasus, yang terdiri dari korban laki-laki 188 jiwa, dan perempuan 556 jiwa.

Bahkan krisis ini terjadi di level elit, terbukti dari sikap kontroversial Alex Noerdin yang mengundang kaum Sodom modern pada 18 April 2018 lalu demi mensosialisasikan Asian Games 2018, dan mendukung pasangan calon pilkada sumsel yang merupakan anak dari Alex Noerdin (beritasriwijaya.co,id). Sikap Noerdin membuatnya menjadi gubernur pertama di Indonesia yang “berani” memberikan dukungan terbuka pada komunitas pecinta sesama jenis ini. Hal memalukan ini bukti bahwa setiap cita-cita pembangunan ekonomi ala kapitalistik tidak bisa dijauhkan dari kompromi terhadap nilai-nilai cacat, liberalisasi sosial dan sekulerisasi massif.

Keresahan aktivis Palembang tentang isu lgbt ini saya tangkap dengan jelas di dua hari forum tim IMuNe di sana. Seorang peserta bedah buku yang juga wartawan mengungkap pasca SEA Games 2011, jumlah kaum Sodom di Palembang dan Sumsel kian banyak dan sekarang jumlahnya sudah mencapai ratusan ribu. Ustadzah Syafrida Syafrudin (Mubalighoh Sumatera Selatan) mengungkapkan ini tidak bisa lepas dari sikap penguasa Sumsel yang “welcome” dengan prilaku mereka dan mentolerir keburukan lgbt. “Apa pentingnya mengundang kaum sodom bagi sukses nya Asian Games? Apakah gubernur selaku tuan rumah akan menyiapkan apapun demi para tamu yg datang ? Termasuk layanan sex sesama jenis ? Naudzubillahi mindzalik.” Pertanyaan Ustadzah Syafrida ini ternyata dikonfimasi oleh seorang mahasiwi UIN Azmi Dyasari yang mengungkap fakta bahwa atlet-atlet SEA Games tahun 2011 lalu di Palembang memang ada yang meminta jasa prostitusi kepada guide, termasuk layanan prostitusi sesama jenis. Nastaghfirullah, na’udzu billah min dzalik!

 

Catatan Penutup

Saya tidak mungkin menuliskan semua fakta meresahkan yang saya dengar selama di Palembang. Tapi setidaknya saya menuliskan ini agar menjadi pelajaran dan motivasi bagi kita semua, terutama kaum Muslimah Palembang, agar mengambil peran besar dalam perubahan. Kita tidak bisa terus menyimpan keresahan itu dalam diam, kita harus bergerak sebelum semua terlambat, sebelum event ASIAN Games membawa makin banyak racun sosial pada masyarakat Palembang.

Pembangunan kapitalistik massif yang sekuler ternyata membawa wabah penyakit sosial ke masyarakat Muslim Palembang. Bahayanya bukan hanya soal kesenjangan ekonomi, tapi juga ancaman kriminalitas dan moralitas sudah demikian nyata di depan mata.

Siapa lagi yang akan menjaga masyarakat kalau bukan kaum Muslimah sang kehormatan umat?

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS al-Anfal [8]: 25)

 

Jakarta, 21 Mei 2018

Ukhtukum,

Fika Komara – CEO Institut Muslimah Negarawan

5 COMMENTS

  1. Barakallah Ibu Fika, semoga Allah memudahkan langkah ibu, jazakumullah atas ilmunya dalam majelis bedah buku kemarin

  2. Perjalanan yg indah, yg hanya dilakoni oleh muslimah bervisi negarawan
    Baarokallahu fiikum mba fika dan tim, kami tunggu catatan menggetarkan berikutnya

    • Mohon doanya kak Isti… Aamiin aamiin aamiin Jazaakillaah khairan doakan kami bisa Geopolitical trip ke Wakatobi juga ya

      Salaam
      -Fika-

Leave a Reply to Silfi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *