KOPI Muslimah

Menjaga Suriah dari Bertransformasi menjadi Vietnam

Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR
Mahasiswi Kajian Timur Tengah dan Islam UI

Suriah, tanah Syam yang sepatutnya dijaga oleh seluruh kaum muslim. Bagaimana tidak, berulangkali lisan mulia baginda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam menyebutkan keutamaan Suriah, terutama posisi strategisnya dalam menghadapi akhir zaman. Dikatakan dalam salah satu hadits bahwa “Pusat kepemimpinan kaum Muslimin pada hari peperangan yang paling besar adalah di sebuah negeri yang bernama Ghouta, yang mana di negeri itu terdapat sebuah kota yang bernama Damsyik (Damaskus). Ia merupakan tempat tinggal yang terbaik bagi kaum Muslimin pada waktu itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Namun demikian, dalam satu dekade terakhir ini seakan menunjukkan bahwa Suriah begitu ringkih dan lemah di hadapan dunia akibat parahnya peperangan yang terjadi. Suriah seakan kehilangan bargaining power-nya yang mengaburkan pandangan umat akan keutamaan negeri Syam ini. Bashar Assad beserta sekutu utamanya, Rusia yang secara frontal berhadapan dengan Amerika bersama pendukung-pendukungnya telah menyebabkan kerusakan yang tak terhingga di Suriah. Mantan utusan PBB asal Aljazair bahkan pernah menyatakan Suriah dapat menjadi sebuah failed state atau negara gagal (BBC 8/6/2014) sebagai dampak dari peperangan ini.
Fenomena baru-baru ini bahkan begitu mengiris hati. Rusia dan rezim Assad dengan dalih menekan pihak oposisi justru menyerang 3 Rumah Sakit di distrik Daraa (Al Bawaba 27/6/2018). Penyerangan Rumah Sakit ini selain menyalahi hukum internasional, tentu saja sangat merugikan rakyat Suriah yang terluka akibat serangan-serangan keji rezim karena Rumah Sakit tersebut menjadi tidak bisa beroperasi.
Jika kita menarik sejarah hingga sekitar enam dekade lalu, Vietnam yang berada di tenggara Asia juga mengalami hal yang serupa pada masa Perang Dingin. Vietnam saat itu terbagi menjadi dua kubu, yakni Hanoi pada sisi utara dengan pengaruh Sosialis-Komunis di bawah Russia (Uni Soviet saat itu) berkonflik dengan Saigon di sisi selatan di bawah kendali Amerika sebagai representasi pihak Kapitalis. Konfrontasi ideologi ketika Perang Dingin tersebut berujung pada Vietnam yang menjadi sebuah negara komunis pasca perang dengan Hanoi sebagai ibukotanya.
Amerika dan Rusia dapat dikatakan sebagai pihak yang bertanggungjawab dalam membentuk Vietnam era kontemporer tersebut. Pola yang serupa jika diperhatikan juga tengah berlangsung di Suriah. Assad yang menganut Syi’ah dari sekte Alawi merupakan anggota Partai Ba’ath Sosialis Arab yang kini memegang kendali di Suriah berkonflik dengan rakyat yang mayoritas muslim yang kontra dengan kepemimpinannya. Sejak tahun 2013, Rusia menyatakan dukungannya untuk rezim Assad dalam melawan pihak oposisi Suriah yang sudah berkonflik sejak meletusnya Arab Spring pada tahun 2011 lalu. Intervensi yang dilakukan Rusia tersebut tentu mengundang Amerika juga mitra militernya seperti Turki dan Arab Saudi untuk menguatkan aliansi dalam melawan Assad.
Atas nama agenda Perang Melawan Terorisme dan demokratisasi, Amerika dan kroninya tersebut telah aktif mengerahkan serangannya kepada Suriah juga “bantuannya” untuk faksi sipil Suriah yang menentang rezim Assad. Sedangkan Rusia dengan tujuan menguatkan pengaruhnya di Timur Tengah bersama pihak Syi’ah Iran dan Lebanon juga ikut mengadu kekuatannya di Suriah. Peliknya kepentingan pihak-pihak yang mengintervensi Suriah sesungguhnya menyebabkan kerugian besar pada kaum muslimin sebagai korban terbanyak dari peperangan itu.
Fenomena yang sedang berlangsung di Suriah tentu merupakan suatu fenomena yang menyayat hati kaum muslimin. Pertarungan yang dilakukan pihak oposisi melawan rezim Assad serta berbagai aktor eksternal yang juga saling kontra satu dengan yang lainnya justru memperkeruh kondisi kaum muslimin di sana. Nyawa mereka seakan tak lebih berharga dari kepentingan-kepentingan semu yang mereka perebutkan. Negara-negara tetangga Suriah pun sudah menutup perbatasan mereka karena tak mampu menampung para pengungsi Suriah yang lari dari kebengisan penguasanya.
Suriah dan Vietnam adalah dua negeri yang mengalami hal serupa terkait keterpecahbelahan meski berada di wilayah yang saling berjauhan. Vietnam yang dulu terbagi menjadi utara dan selatan, kini menjadi negara komunis. Suriah saat ini menghadapi konfrontasi antara kubu kapitalis dengan sosialis-komunis dan masih terus berlangsung. Jika konflik di Suriah ini stagnan dan tidak kemana-mana, maka kaum muslimin yang menjadi mayoritas di sana akan tetap dicengkeram oleh kekuatan kafir.
Guna menjaga Suriah agar tidak menjadi Vietnam berikutnya, Suriah memerlukan satu kekuatan independen yang tidak berafiliasi pada kapitalisme maupun sosialis-komunisme. Dua kekuatan ideologi tersebut telah nyata menjadi musuh utama di Suriah. Islam, sebagai alternatif kekuatan sepatutnya mengambil peran yang strategis dalam melindungi rakyat di Suriah. Kekuatan Islam ini tidak boleh berada dalam kuasa dan pengaruh eksternal sama sekali. Ia juga harus memiliki kemandirian dan integritas di mata dunia.
Meskipun demikian, kekuatan Islam seperti yang disebutkan sebelumnya hanya bisa dimiliki oleh negara yang betul-betul menjadikan Islam sebagai asas pemerintahannya dan tidak mencampuradukkannya dengan sistem kufur sedikitpun. Daulah Islam seperti yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah dahulu dan dilanjutkan dalam sistem Khilafah Rasyidah setelah beliau menjadi bukti akan keniscayaan kekuatan Islam tersebut. Di banyak literatur sejarah, disebutkan betapa musuh-musuh Islam takut dan takluk di bawah kekuatan Daulah. Suriah yang diadu domba oleh kekuatan Barat seharusnya mendapatkan perlindungan dari Daulah Islam ini. Akan tetapi, ketiadaan Daulah Islam yang shahih saat ini juga malah menjadi masalah lain atas kezaliman yang dirasakan rakyat Suriah.
Oleh karena itu, memperjuangkan dan mengembalikan Daulah Islam ini menjadi tugas besar dan utama bagi seluruh kaum muslimin untuk menjaga Suriah dari bertransformasi menjadi Vietnam. Keterpurukan yang dihadapi rakyat Suriah seharusnya menjadi dorongan kuat bagi seluruh elemen umat dan para pemimpin negeri muslim untuk bersatu mewujudkan Daulah Islam, bukan malah terpecah menjadi entitas-entitas kecil yang disibukkan oleh kepentingan masing-masing.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *