Inti geopolitik adalah ruang hidup (living space) atau dikenal dengan: lebensraum, seperti kata Frederich Ratzel. Namun, istilah lebensraum sering diidentikkan negatif karena dianggap melekat dengan Nazi dan kekuasaan hegemon yang ekspansionis. Padahal pemikiran Ratzel ini cenderung hanya menyatakan sebuah masyarakat perlu ruang hidup yang dinamis, tapi karena Hitler memformulasikannya dengan pemikiran rasisme bangsa Aria dan ambisi kekuasaannya maka istilah lebensraum seperti sudah melekat dengan Nazi.

Terlepas dari itu semua, istilah lebensraum atau ruang hidup selama steril dari nilai-nilai sekuler, maka menurut saya boleh saja dipinjam untuk menelaah kondisi umat Islam sekarang.

Ruang hidup umat hari ini adalah ruang yang banyak disekat dan dilipat oleh batas-batas semu negara bangsa. Ruang bersekat & berlipat ini telah membuat jarak bahkan memfasilitasi penindasan, eksploitasi bahkan genosida oleh para tiran.

Padahal dulu umat hidup dalam ruang hidup dinamis yang penuh kemuliaan dan keluhuran, dengan impuls syaraf dakwah dan jihad yang menghidupkan setiap ruang baru dalam jelajah syi’ar Islam untuk seluruh dunia.

Kala itu terwujudlah sabda mulia Rasulullah Saw dalam setiap ruang penjuru dunia;
“Perkara ini ibarat siang dan malam. Allah akan membuat Diin ini memasuki setiap rumah penduduk di gurun, di desa, di kota dengan kejayaan ataupun kehinaan. Allah akan memberikan kejayaan Islam, dan Allah akan menimpakan kehinaan pada kekufuran”. (HR. Ahmad inb Hanbal, at-Tirmidzi).

Ya, saat itu Islam masih memiliki kepemimpinan Geopolitik yang solid dan kuat, kepemimpinan yang menumbuhkan ruang hidup umat Muhammad saw hingga mampu mengambil peran besar dalam menata dunia. Sebuah kepemimpinan Geopolitik yang tentunya sangat kita butuhkan membebaskan umat dari ruang bersekat dan berlipat seperti hari ini. Kepemimpinan seperti apakah itu? (bersambung)

Ukhtukum,

@fika_komara


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *